PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NOMOR 13 TAHUN 2025
SALINAN
NOMOR
13 TAHUN 2025
TENTANG
PERUBAHAN ATAS
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,
RISET,
DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK INDONESIA,
|
Menimbang : |
a. |
bahwa untuk
membangun manusia yang
beriman dan |
|
|
|
bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, |
|
|
|
dan berkarakter Pancasila, diselenggarakan pendidikan |
|
|
|
bermutu
untuk semua; |
|
|
b. |
bahwa dalam
mewujudkan pendidikan bermutu untuk |
|
|
|
semua sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, diperlukan |
|
|
|
penyesuaian
kurikulum
dan
pendekatan
pembelajaran |
yang mampu beradaptasi dengan
kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, perkembangan global, dan
keragaman
sosial dan budaya;
c. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 37 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun
2021
tentang Standar Nasional
Pendidikan, menteri yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pendidikan berwenang untuk menetapkan kerangka
dasar kurikulum dan struktur
kurikulum pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang
pendidikan menengah;
d. bahwa
berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan
Dasar dan Menengah tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada
Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan
Menengah;
|
Mengingat : |
1. |
Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik |
|
|
|
Indonesia
Tahun 1945; |
|
|
2. |
Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003
tentang Sistem |
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara
Republik
Indonesia Tahun
2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara
Republik Indonesia Nomor 4301);
3.
Undang-Undang Nomor
39
Tahun
2008
tentang
Kementerian Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor
61 Tahun
2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 39
Tahun 2008 tentang
Kementerian
Negara
(Lembaran
Negara
Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 225, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor
6994);
4. Peraturan
Pemerintah
Nomor
57
Tahun
2021
tentang
Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021
Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6676) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah
Nomor
4
Tahun
2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang
Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022
Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6762);
5. Peraturan
Presiden
Nomor
188
Tahun
2024
tentang
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2024 Nomor 385);
6. Peraturan
Menteri
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah
Nomor 1 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1050);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
TENTANG PERUBAHAN ATAS
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,
RISET,
DAN
TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA
PENDIDIKAN ANAK USIA
DINI,
JENJANG
PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG
PENDIDIKAN MENENGAH.
Pasal
I
Beberapa
ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang
Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 172) diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan ayat (2) Pasal 3 diubah sehingga berbunyi
sebagai berikut:
Pasal
3
(1) Kerangka dasar Kurikulum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal
2 huruf a
merupakan rancangan
landasan utama
dalam
pengembangan struktur
Kurikulum.
(2) Kerangka dasar Kurikulum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) memuat:
a.
tujuan;
b.
prinsip;
c.
landasan filosofis;
d.
landasan sosiologis;
e.
landasan psikopedagogis; dan
f.
pendekatan pembelajaran mendalam.
2. Ketentuan
Pasal
6
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
6
Struktur Kurikulum terdiri atas:
a. struktur Kurikulum pendidikan anak usia dini atau
bentuk lain yang sederajat;
b. struktur
Kurikulum sekolah
dasar,
madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain
yang sederajat;
c. struktur Kurikulum sekolah
menengah
pertama,
madrasah tsanawiyah, atau
bentuk
lain
yang sederajat;
d. struktur
Kurikulum sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain
yang sederajat;
e. struktur Kurikulum sekolah menengah
kejuruan
atau madrasah aliyah kejuruan;
f. struktur Kurikulum sekolah dasar
luar biasa dan
madrasah ibtidaiyah luar biasa;
g. struktur Kurikulum sekolah menengah pertama luar
biasa dan madrasah tsanawiyah luar biasa;
h. struktur Kurikulum sekolah menengah
atas
luar
biasa dan madrasah aliyah luar biasa; dan
i. struktur Kurikulum Satuan Pendidikan
penyelenggara pendidikan kesetaraan.
3. Ketentuan
Pasal
16
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
16
(1) Kokurikuler sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7
ayat (1) huruf b memuat:
a.
kompetensi;
b. muatan pembelajaran; dan
c.
beban belajar.
(2) Kokurikuler
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dilaksanakan dalam bentuk
pembelajaran kolaboratif
lintas disiplin ilmu,
gerakan 7 (tujuh)
kebiasaan anak Indonesia
hebat, dan/atau cara lainnya.
(3) Kokurikuler sebagaimana dimaksud
pada
ayat
(1)
pada pendidikan
kesetaraan
dilaksanakan
paling
sedikit melalui pemberdayaan dan keterampilan.
(4) Kokurikuler
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat
(1)
dikembangkan oleh Satuan Pendidikan mengacu
pada panduan yang ditetapkan oleh pejabat
pimpinan
tinggi madya yang melaksanakan
tugas
di
bidang
Kurikulum.
4. Ketentuan
Pasal
17
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
17
(1) Kompetensi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a dirumuskan untuk
memperkuat:
a.
keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang
Maha
Esa;
b. kewargaan;
c.
penalaran kritis;
d. kreativitas;
e. kolaborasi;
f.
kemandirian;
g. kesehatan; dan h. komunikasi.
(2) Alur
perkembangan kompetensi sebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh pejabat pimpinan tinggi madya yang melaksanakan
tugas di bidang Kurikulum.
5. Ketentuan
Pasal
18
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
18
(1) Muatan
pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 ayat (1) huruf b berupa
tema.
(2) Tema sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1) digunakan untuk merumuskan topik
yang relevan dengan konteks sosial budaya dan karakteristik Peserta Didik.
(3)
Tema
sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1)
dikembangkan
oleh Satuan Pendidikan.
6. Ketentuan
Pasal
19
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
19
Beban belajar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat
(1) huruf c pada Kokurikuler dirumuskan dalam bentuk alokasi
waktu 1 (satu) tahun ajaran.
7. Ketentuan
Pasal
22
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
22
(1) Satuan
Pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar
dan
pendidikan menengah jalur formal menyelenggarakan layanan Ekstrakurikuler.
(2) Satuan
Pendidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat
(1) sekurang-kurangnya menyediakan
Ekstrakurikuler kepramukaan atau kepanduan lainnya.
(3) Satuan
Pendidikan pada pendidikan anak usia dini
dan
Satuan
Pendidikan
penyelenggara
pendidikan
kesetaraan dapat
menyelenggarakan layanan
Ekstrakurikuler.
8. Ketentuan
Pasal
32
diubah
sehingga
berbunyi
sebagai
berikut:
Pasal
32
Pada
saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:
a.
Satuan Pendidikan yang
menggunakan
struktur
Kurikulum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dan huruf i dapat menerapkan
Kurikulum sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri ini secara bertahap atau
secara serentak;
b. Satuan
Pendidikan
yang
menggunakan
struktur
Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, huruf c, huruf f, dan
huruf g dapat menerapkan Kurikulum sebagaimana
tercantum pada Peraturan Menteri
ini secara bertahap
mulai dari kelas I, kelas IV, dan kelas VII atau secara serentak pada
seluruh kelas; dan
c. Satuan
Pendidikan
yang
menggunakan
struktur
Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d, huruf e, dan huruf h
dapat menerapkan Kurikulum sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri ini
secara bertahap mulai dari kelas X.
9. Di antara Pasal 32 dan Pasal 33 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 32A sehingga berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 32A
Pada saat Peraturan
Menteri
ini
mulai
berlaku,
mata
pelajaran
pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial diselenggarakan Satuan Pendidikan pada
jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah mulai tahun
ajaran 2025-2026 secara bertahap.
10. Ketentuan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I,
Lampiran II, dan
Lampiran III
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Nomor 12
Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak
Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar,
dan Jenjang Pendidikan Menengah diubah, sehingga menjadi sebagaimana tercantum
dalam Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran III yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal
II
Peraturan Menteri ini
mulai
berlaku pada
tanggal diundangkan.
Agar
setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan
di Jakarta pada tanggal 11 Juli 2025
MENTERI
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK INDONESIA, ttd.
ABDUL MU’TI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal
15 Juli 2025
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BERITA NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR 503
Salinan
sesuai dengan aslinya. Kepala Biro Hukum
Kementerian Pendidikan Dasar
dan Menengah
ttd.
Muhammad Ravii
NIP 197203232005011001
SALINAN LAMPIRAN
I
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DASAR
DAN
MENENGAH
REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12
TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN
DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
KERANGKA
DASAR KURIKULUM A. Tujuan
Kurikulum
memiliki tujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian,
kesehatan, dan komunikasi serta menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa
Peserta Didik sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila
melalui pembelajaran mendalam.
B.
Prinsip
Kurikulum dirancang dengan prinsip:
1. pengembangan karakter, yaitu pengembangan kompetensi spiritual, moral, sosial, dan emosional Peserta Didik yang
terintegrasi dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta
melalui pembiasaan dalam budaya sekolah;
2. fleksibel, yaitu
dapat disesuaikan dengan
kebutuhan pengembangan
kompetensi Peserta Didik, karakteristik Satuan Pendidikan, dan konteks
lingkungan sosial budaya setempat; dan
3. berfokus pada muatan esensial,
yaitu berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan
kompetensi dan karakter Peserta Didik agar proses pembelajaran dapat dikelola
secara optimal untuk pembelajaran mendalam.
C.
Landasan Filosofis
Filosofi
pendidikan memiliki peran fundamental dalam membangun sistem pendidikan yang
berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh. Filosofi ini menjadi
landasan yang mengarahkan tujuan dan proses pendidikan agar senantiasa relevan
dengan konteks sosial, budaya, dan tantangan zaman. Sebagaimana ditegaskan oleh
John Dewey, pendidikan bukanlah sekadar persiapan untuk hidup di masa mendatang, namun juga merupakan
kehidupan itu sendiri. Hal ini berarti pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer
ilmu, tetapi juga alat untuk
membangun masyarakat ideal yang mencerminkan nilai-nilai universal seperti
kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan, dengan mengintegrasikannya ke dalam
pengalaman hidup peserta didik.
Para filsuf
ternama seperti Dewey, Ausubel, Ornstein dan Hunkins, dan Ralph Tyler,
menekankan pentingnya filosofi pendidikan dalam menciptakan sistem yang
visioner dan dinamis. Filosofi ini merefleksikan cita-cita manusia dalam membangun
masyarakat inklusif dan progresif. Dengan
demikian, pendidikan tidak
hanya
menjadi
sarana
untuk
memperoleh
pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial yang
memungkinkan manusia terus berkembang seiring perubahan zaman.
Pendidikan yang
ideal tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan, membentuk karakter,
dan memberdayakan manusia untuk berkontribusi positif kepada masyarakat. Ki
Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemandirian
peserta didik, didukung oleh sistem among yang mencakup nilai asah, asih, asuh. Dalam pandangannya, pendidikan
harus berakar pada budaya bangsa, berfungsi sebagai pranata sosial yang
melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, serta menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan, sebagaimana tercermin dalam konsep "Taman Siswa."
Filosofi ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, yang melihat
pendidikan sebagai alat
perubahan sosial. Baginya,
pendidikan bukan hanya transfer
ilmu, melainkan proses pembentukan manusia
berintegritas yang berperan aktif dalam menciptakan masyarakat
berkemajuan dengan prinsip berbuat untuk kebaikan bersama tanpa memperalat
orang lain.
Selanjutnya K.H.
Ahmad Dahlan menekankan tujuh prinsip filosofis yang perlu menjadi landasan
dalam proses pendidikan, yaitu (1) berasaskan pada tujuan hidup; (2) tidak
sombong, tidak takabur; (3) kegigihan belajar untuk ketuntasan kinerja; (4)
mengoptimalkan penggunaan akal untuk menemukan kebenaran sejati; (5) berani
menegakkan kebenaran; (6) berbuat untuk kebaikan
sesama, bukan untuk
memperalat mereka; dan (7)
pengamalan ilmu agama
dengan tingkat kualitas
tinggi untuk kemanfaatan bersama. Dengan demikian K.H.
Ahmad Dahlan juga menegaskan pentingnya pendidikan sebagai
alat perubahan sosial
dan pendidikan harus melahirkan manusia yang berperan
aktif untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan.
Lebih jauh,
pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan kolektif dan individu dengan
mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan sosial secara
holistik. K.H. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah
membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan sejahtera melalui pendekatan yang inklusif, bermutu, dan
relevan. Nilai- nilai mabadi khaira ummah seperti integritas, etos kerja, dan
keadilan menjadi landasan penting dalam pembelajaran yang moderat dan adaptif.
Pandangan ini bersinergi dengan gagasan Ki Bagus Hadikusumo, yang percaya bahwa
pendidikan harus mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti
kemampuan melakukan analisis dan sintesis, sehingga peserta didik mampu memahami dan menghadapi tantangan
yang kompleks.
Pendidikan juga
harus bersifat transformatif, bermakna, dan berpihak kepada kelompok
termarjinalkan. Romo Y.B. Mangunwijaya mengemukakan bahwa pendidikan harus
menjadi jalan pembebasan melalui dialog lintas budaya dan pemahaman
kontekstual. Dalam pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menjadi penerima
ilmu, tetapi juga aktor perubahan sosial yang aktif
dalam menyelesaikan masalah
nyata melalui refleksi dan kolaborasi. Prinsip
ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar
Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan yang menekankan bahwa pendidikan harus relevan
dengan kehidupan sosial,
membangun masyarakat yang adil,
dinamis, dan berbasis nilai.
Semangat saling memuliakan dalam lingkungan pendidikan,
sebagaimana diajarkan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, berpusat pada penghormatan
mendalam terhadap tiga elemen penting:
guru, teman sejawat,
dan sumber ilmu. Menghormati
guru berarti mengakui peran mereka sebagai pendidik dan teladan, dengan
mendengarkan, mematuhi, dan bersikap sopan. Menghormati teman sejawat
menciptakan lingkungan yang kolaboratif, di mana semua pihak saling mendukung
dan berbagi ilmu tanpa iri hati. Sementara itu, menghormati sumber ilmu
mengajarkan pentingnya menjaga kesucian ilmu dengan memanfaatkannya untuk tujuan mulia dan
tetap rendah hati dalam pencapaian intelektual sangat dianjurkan oleh KH. Ahmad
Dahlan. K.H. Ahmad Dahlan juga
mengajarkan bahwa pendidikan yang memuliakan bertujuan untuk membangkitkan
kesadaran sosial dan menumbuhkan semangat melayani sesama sebagai bentuk
ibadah. Romo Y.B. Mangunwijaya menambahkan bahwa penghormatan terhadap martabat
manusia, terutama kaum yang terpinggirkan, menjadikan pendidikan sarana pembebasan dan pemberdayaan. Senada dengan itu, Ki
Bagus Hadikusumo menekankan pentingnya membangun integritas moral yang kokoh
sebagai pondasi utama dalam memuliakan kehidupan bersama. Dengan fondasi ini,
pendidikan tidak hanya menjadi wadah pembelajaran yang efektif tetapi juga
membentuk karakter yang kuat, menumbuhkan nilai-nilai spiritual, serta
menciptakan harmoni antara aspek intelektual, moral, dan spiritual dalam proses
pendidikan.
Selain
tokoh-tokoh yang telah disebutkan, berbagai tokoh nasional dari beragam latar
belakang dan disiplin ilmu turut menyumbangkan pandangan filosofis yang
mendalam mengenai pendidikan. Mereka menekankan pentingnya pembentukan
karakter, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, dan pemberian manfaat bagi
masyarakat. Meskipun setiap tokoh memiliki penekanan yang berbeda-beda,
kontribusi mereka berperan dalam membangun pendidikan Indonesia yang beradab,
berkeadilan, dan relevan dengan tuntutan zaman.
Selanjutnya
Syaikh Az-Zarnuji dalam Ta'līm al-Muta'allim menekankan pentingnya adab dan
metode belajar yang efektif dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat. Salah satu
konsep utama yang relevan dengan pembelajaran
mendalam adalah urgensi
kesungguhan dan niat yang ikhlas dalam belajar sehingga peserta
didik mendapat kemanfaatannya. Pembelajaran juga terkait erat dengan adab
memuliakan, yang mencakup penghormatan terhadap ilmu dan guru. Dalam proses ini, peserta
didik dan guru saling
memuliakan dalam berinteraksi. Prinsip ini sejalan dengan salah satu dari empat kerangka pembelajaran mendalam, yaitu lingkungan pembelajaran, yang menekankan
pentingnya budaya belajar yang positif. Selain kesungguhan dalam belajar,
interaksi yang baik dengan ilmu, guru, dan sesama peserta didik menjadi faktor
penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
Az-Zarnuji juga
menyoroti pentingnya strategi belajar yang sistematis, seperti memahami makna
sebelum menghafal, serta mengulang dan mendiskusikan pelajaran. Dalam konteks
pembelajaran mendalam, strategi ini mencerminkan pendekatan
berbasis inkuiri dan kolaborasi, di mana peserta didik tidak hanya menerima
informasi secara pasif, tetapi juga secara aktif membangun pemahaman melalui
eksplorasi, diskusi, dan refleksi mendalam. Konsep kesadaran dalam belajar yang
dibahas Syaikh Az-Zarnuji juga relevan dengan prinsip pembelajaran mendalam
yang berorientasi pada pembelajaran berkesadaran. Peserta didik didorong untuk memiliki
kesadaran
dan
motivasi
belajar,
mempersiapkan
diri
sebelum
belajar, serta memahami pengalaman belajar yang diberikan oleh guru. Selain
itu, pengalaman belajar yang menekankan pemahaman dan pengamalan, selaras
dengan tahapan dalam pembelajaran mendalam,
yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pembelajaran bukan hanya
sekadar menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu agar menjadi
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Secara
keseluruhan, pandangan-pandangan ini saling melengkapi untuk membangun sistem
pendidikan yang tidak hanya fokus pada kecakapan intelektual, tetapi juga pada
pembentukan karakter dan pemberdayaan manusia. Dengan integrasi pemikiran ini,
pendidikan menjadi fondasi untuk mewujudkan generasi yang tidak hanya terampil
secara akademis, tetapi juga memiliki integritas moral, empati sosial, dan
spiritualitas yang kokoh. Sistem pendidikan seperti ini tidak hanya relevan
dengan perkembangan zaman, tetapi juga memberi arah yang jelas dalam menghadapi
tantangan global di masa depan.
Pembelajaran
Mendalam sejalan dengan pemikiran para filsuf pendidikan, karena pembelajaran mendalam menempatkan peserta
didik sebagai pusat dari proses pembelajaran, dengan
menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Pendekatan ini semakin relevan dalam menghadapi dunia yang penuh kompleksitas
dan ketidakpastian, dengan cara mengintegrasikan olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga
(kinestetik) secara holistik dan terpadu. Pembelajaran Mendalam tidak hanya
bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter,
kreativitas, dan empati, sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang
utuh dan selaras dengan tuntutan global.
Pembelajaran mendalam
menekankan bahwa pembelajaran bukan sekadar
transfer ilmu, melainkan penciptaan suasana yang memuliakan peserta didik.
Filosofi ini berlandaskan pandangan pendidikan holistik yang mengedepankan
keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik. Melalui
pembelajaran berkesadaran, peserta didik diajak untuk hadir secara
penuh dalam setiap
aktivitas belajar. Pendekatan ini menegaskan pentingnya
sinkronisasi antara pikiran, perasaan, dan tindakan, sebagaimana diajarkan oleh
Ki Hajar Dewantara melalui sistem among yang berbasis
nilai asah, asih,
dan asuh. Dengan
kesadaran penuh, peserta
didik diajak memahami bahwa belajar adalah proses refleksi mendalam yang
melibatkan penerimaan terhadap keragaman perspektif dan komitmen untuk terus
berkembang.
Pembelajaran
bermakna dalam pembelajaran mendalam memastikan bahwa materi yang diajarkan
relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.
Dengan menghubungkan pembelajaran pada konteks budaya,
sosial, dan tantangan sehari-hari, pembelajaran mendalam
memotivasi peserta didik untuk
berpikir kritis, analitis, dan sintesis dalam memecahkan masalah kompleks. Pendekatan ini sejalan
dengan pandangan K.H. Ahmad
Dahlan yang memandang pendidikan sebagai alat perubahan sosial yang
membangkitkan kesadaran kolektif. Dengan pembelajaran bermakna, peserta didik
tidak hanya mendapatkan pengetahuan praktis, tetapi juga membangun wawasan
untuk berkontribusi secara positif terhadap masyarakat.
Suasana belajar
yang menggembirakan merupakan prinsip utama pembelajaran mendalam, di mana
pembelajaran dirancang agar bebas dari
tekanan
yang berlebihan dan penuh dengan antusiasme. Filosofi ini menggemakan prinsip
Taman Siswa yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara, di mana kebebasan
berekspresi, kenyamanan, dan motivasi intrinsik peserta didik dipupuk. Dalam
suasana belajar yang menggembirakan ini, peserta didik termotivasi untuk
mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan semangat
dan keinginan mendalam, karena dilandasi
oleh keamanan psikologis yang membebaskan mereka dari rasa takut dan
memungkinkan mereka untuk berekspresi, berpikir kritis, dan berkreasi tanpa
hambatan.
Dimensi olah
pikir dalam pembelajaran mendalam berfokus pada pengembangan kemampuan
intelektual peserta didik melalui eksplorasi, eksperimen, dan inovasi. Pendekatan ini menekankan integrasi antara teori dan praktik
untuk memotivasi pola pikir adaptif
dan solusi kreatif.
Dimensi olah hati dan olah rasa memperkuat nilai-nilai moral, etika, dan
estetika, membentuk peserta didik yang berintegritas, berempati, dan
berkomitmen terhadap keadilan. Hal ini sejalan
dengan pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dan Romo Y.B. Mangunwijaya
yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis moralitas dan penghormatan
terhadap martabat manusia.
Dimensi olahraga
melengkapi pembelajaran mendalam dengan mengedepankan keseimbangan antara
kesehatan fisik dan mental. Melalui aktivitas fisik yang terintegrasi dalam
pembelajaran, peserta didik diajak untuk menjaga kesehatan tubuh sebagai
fondasi dari keberhasilan akademik dan kehidupan. Pendekatan ini menanamkan
nilai disiplin, ketekunan, dan daya tahan, sekaligus menyadarkan peserta didik
bahwa tubuh yang sehat mendukung pikiran yang tajam dan hati yang tenang.
Pembelajaran mendalam
juga menumbuhkan semangat
saling memuliakan di
lingkungan pendidikan, dengan menempatkan penghormatan sebagai inti dari proses
pembelajaran. Sebagaimana diajarkan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, lingkungan
pendidikan yang baik harus mencerminkan penghormatan terhadap guru, teman
sejawat, dan sumber ilmu. Guru dihormati sebagai pembimbing penuh kasih sayang,
teman sejawat dihargai dalam semangat kolaborasi, dan sumber ilmu dirawat dengan sikap rendah hati. Melalui sistem among, yang
mencakup nilai asah, asih, dan asuh, pembelajaran mendalam menciptakan harmoni
yang mendukung peserta didik untuk berkembang secara alami tanpa tekanan yang
mengekang.
Dengan mengintegrasikan semua
dimensi ini, pembelajaran mendalam menciptakan pengalaman pendidikan yang menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan peserta didik dan
masyarakat. Filosofi ini tidak hanya membentuk peserta didik yang cerdas,
tetapi juga bermartabat, mandiri, dan berempati, siap menghadapi tantangan
global dengan percaya diri dan kesadaran penuh.
D.
Landasan Sosiologis
Secara
sosiologis, hakikat pendidikan yang dimanifestasikan dalam proses pembelajaran
sangat berkaitan erat dengan kepentingan nasional, terutama keberadaan dan kondisi bangsa
yang majemuk terdiri atas berbagai suku, ras, budaya, dan
bahasa, yang perlu dibangun menjadi bangsa yang maju dan berjati diri. Rumusan
mencerdaskan kehidupan bangsa bermakna filosofis mendalam dan merupakan tujuan
ke-3 dari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Para pendiri bangsa
mengamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan
UUD 1945 bahwa bangsa
Indonesia harus membangun kehidupan
yang cerdas dan sempurna dalam menggunakan akal budinya di berbagai
aspek kehidupan. Di samping itu, mencerdaskan
kehidupan bangsa bukan
hanya berarti cerdas
sumber daya manusianya,
melainkan seluruh aspek kehidupan bangsa baik menyangkut aspek budaya, sistem,
dan lingkungan dalam cakupan yang luas yang menggambarkan kehidupan kebangsaan.
Pembelajaran
mendalam sebagai fondasi dari seluruh proses pembelajaran dalam sistem
pendidikan nasional merupakan sarana untuk mewujudkan amanat konstitusi untuk
membangun kehidupan bangsa yang cerdas seperti diuraikan di atas. Dalam
perspektif ini, pembelajaran mendalam akan
menjiwai seluruh ekosistem
sebagai kesatuan sistem
pendidikan nasional secara utuh. Sebagai fondasi ekosistem pendidikan,
hakikat pembelajaran mendalam akan mewujud dalam fungsi dan peran semua
komponen mulai dari sistem terkecil di kelas sampai sistem terbesar.
Aspek sosiologis
dari pendidikan yang holistik pun selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara
bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya
budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak.
Pendidikan menuntut segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Pembelajaran mendalam menjadi fondasi utama untuk
pengembangan kesadaran diri secara spiritual, sosial, bermakna, kontekstual,
dan relevan dengan kehidupan, dan menggembirakan secara lahir batin.
E.
Landasan Psikopedagogis
Landasan psikopedagogis merupakan landasan
yang memberikan dasar
Kurikulum terkait
proses manusia belajar
dan berkembang. Penggabungan teori psikologi perkembangan
dan pedagogi dimaksudkan untuk memastikan bahwa pengalaman belajar disesuaikan
dengan kebutuhan dan kapasitas Peserta
Didik. Untuk memperhatikan tingkat perkembangan
dan kemajuan belajar maka Peserta
Didik ditempatkan sebagai
pelaku aktif pembelajaran.
F. Pendekatan Pembelajaran Mendalam
Pendekatan
pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan
pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna,
dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga
secara holistik dan terpadu. Pendekatan ini mendorong Peserta Didik untuk
belajar secara sadar dan penuh perhatian, menikmati proses pembelajaran dengan
antusias dan semangat serta menemukan makna dan relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupan mereka.
Hal ini memungkinkan Peserta Didik untuk terlibat aktif, menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, dan
membangun pemahaman yang berdampak jangka panjang.
Kerangka kerja
pembelajaran mendalam terdiri atas empat komponen, yaitu (1) dimensi profil
lulusan, (2) prinsip pembelajaran, (3) pengalaman belajar, dan (4) kerangka
pembelajaran. Pembelajaran mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi
profil lulusan yaitu (1) keimanan dan ketakwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6)
kemandirian, (7) kesehatan, dan (8) komunikasi. Dimensi profil
lulusan
merupakan
kompetensi
utuh yang harus dimiliki oleh setiap Peserta Didik setelah menyelesaikan proses
pembelajaran dan pendidikan.
Delapan dimensi
profil lulusan merupakan
hasil dari capaian
pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Di samping itu, delapan dimensi
profil lulusan
menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang
berintegritas, profesional, dan transformatif. Profil lulusan dicapai melalui
prinsip sebagai berikut.
1. Pembelajaran yang berkesadaran terjadi
ketika Peserta Didik menjadi
pemelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta Didik memahami tujuan
pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif
mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Ketika Peserta Didik memiliki kesadaran
belajar, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
2.
Pembelajaran yang bermakna
terjadi
ketika
Peserta
Didik
dapat
menerapkan
pengetahuannya secara kontekstual. Proses belajar Peserta Didik tidak hanya
sebatas memahami informasi/penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan
mengaplikasi pengetahuan. Kemampuan ini mendukung retensi jangka panjang.
Pembelajaran terkoneksi dengan lingkungan Peserta Didik membuat mereka memahami
siapa dirinya, bagaimana menempatkan diri, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi kembali. Konsep pembelajaran yang bermakna melibatkan
Peserta Didik dengan isu nyata dalam konteks personal, lokal, nasional, global.
Pembelajaran harus melibatkan orang tua, masyarakat, atau komunitas sebagai
sumber pengetahuan praktis, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan
kepedulian sosial.
3.
Pembelajaran yang menggembirakan merupakan
suasana belajar yang
positif,
menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu
Peserta Didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami,
mengingat, dan menerapkan pengetahuan. Ketika Peserta Didik menikmati proses
belajar, motivasi intrinsik mereka akan tumbuh, mendorong rasa ingin tahu,
kreativitas, dan keterlibatan aktif. Dengan demikian, pembelajaran membangun
pengalaman belajar yang berkesan. Bergembira dalam belajar juga diwujudkan
ketika setiap Peserta Didik merasa nyaman, Peserta Didik terpenuhi kebutuhannya seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa
aman, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta
kebutuhan aktualisasi diri.
Prinsip tersebut
diwujudkan melalui pengalaman belajar Peserta Didik, yaitu memahami,
mengaplikasi, dan merefleksi. Penerapan pembelajaran mendalam didukung dengan
praktik pedagogis oleh Pendidik, lingkungan belajar yang memberikan keamanan
dan kenyamanan kepada Peserta Didik, pemanfaatan digital serta adanya kemitraan
pembelajaran yang optimal.
MENTERI
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK INDONESIA,
Salinan sesuai
dengan aslinya. Kepala Biro
Hukum
Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah ttd.
Muhammad
Ravii
NIP
197203232005011001
ttd.
ABDUL MU’TI
jdih.kemendikdasmen.go.id
SALINAN LAMPIRAN
II
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DASAR
DAN
MENENGAH
REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG
KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG
PENDIDIKAN MENENGAH
STRUKTUR
KURIKULUM
A. Struktur
Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini atau Bentuk
Lain yang
Sederajat
Struktur
Kurikulum pada pendidikan anak usia dini meliputi Struktur Kurikulum pada taman
kanak-kanak, raudhatul athfal, taman
kanak- kanak luar biasa, bustanul athfal, kelompok bermain, taman penitipan
anak, atau bentuk lain yang sederajat.
Struktur Kurikulum pada pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas:
1. Intrakurikuler
Intrakurikuler
dirancang agar Peserta Didik dapat mencapai kemampuan fondasi sebagaimana
tertuang dalam Capaian Pembelajaran Fase fondasi.
Capaian Pembelajaran Fase fondasi terdiri atas elemen:
a.
nilai agama dan budi pekerti;
b. jati diri; dan
c. dasar-dasar
literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa,
dan seni.
Intrakurikuler dilaksanakan dengan bermain
bermakna yaitu aktivitas
bermain yang memberikan ruang
bereksplorasi sehingga bermanfaat untuk mengembangkan karakter
dan kompetensi Peserta Didik. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan belajar Peserta Didik, yakni proses pembelajaran yang melibatkan dan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Kegiatan dapat menggunakan sumber belajar yang nyata
dan ada di lingkungan sekitar
Peserta Didik. Sumber belajar yang tidak
tersedia secara nyata
dapat dihadirkan dengan
dukungan teknologi, buku
bacaan anak, atau bentuk lainnya.
Intrakurikuler
pada taman kanak-kanak luar biasa dilaksanakan dengan bermain bermakna yaitu aktivitas
bermain yang memberikan ruang
bereksplorasi sehingga bermanfaat untuk mengembangkan karakter dan kompetensi
Peserta Didik. Di sisi lain, bermain yang dilaksanakan bersifat terapeutik
untuk menstimulasi aspek perkembangan yang terhambat.
2. Kokurikuler
Kokurikuler bertujuan untuk memperkuat upaya pencapaian profil
lulusan yang
mengacu pada
Standar Tingkat Pencapaian
Perkembangan
Anak (STPPA) untuk pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat.
3. Alokasi Waktu Pembelajaran
Alokasi waktu
pembelajaran di pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat untuk
anak usia 4 (empat) sampai
dengan 6 (enam) tahun paling sedikit 900 (sembilan
ratus) menit per minggu. Alokasi waktu pembelajaran di pendidikan anak usia
dini atau bentuk lain yang sederajat untuk anak usia 3 (tiga) sampai dengan 4 (empat)
tahun paling sedikit 360 (tiga ratus enam puluh) menit per minggu.
Alokasi waktu pembelajaran untuk
taman kanak-kanak luar biasa bersifat fleksibel sehingga Satuan Pendidikan
dapat menyesuaikan beban belajar dengan karakteristik, kebutuhan belajar
dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain.
Pada taman
kanak-kanak luar biasa berfokus pada intervensi dini dan penyiapan Peserta
Didik untuk dapat mencapai kemampuan fondasi dan melakukan transisi ke jenjang
pendidikan selanjutnya baik ke Satuan Pendidikan umum maupun khusus. Program
kebutuhan khusus pada taman kanak-kanak luar biasa diberikan sesuai kebutuhan
Peserta Didik sejak Fase fondasi berdasarkan hasil asesmen.
B. Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau Bentuk Lain yang Sederajat
Struktur
Kurikulum sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat
sebagai berikut.
Tabel
1. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk
lain yang sederajat kelas I
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler Per Tahun Alokasi
Kokurikuler Per Tahun Total JP
Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 108 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 144 36 180
(Asumsi
1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Bahasa
Indonesia |
252 |
36 |
288 |
|
Matematika |
144 |
36 |
180 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
108 |
36 |
144 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni
Musik 2.
Seni
Rupa 3. Seni
Teater 4. Seni
Tari |
108 |
36 |
144 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
864 |
216 |
1.080 |
|
Muatan Lokalc) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum + Muatan
Lokal |
936 |
216 |
1.152 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
2. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk
lain yang sederajat kelas II
(Asumsi
1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Pancasila |
144 |
36 |
180 |
|
Bahasa
Indonesia |
288 |
36 |
324 |
|
Matematika |
180 |
36 |
216 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan |
108 |
36 |
144 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni
Musik 2.
Seni
Rupa 3. Seni
Teater 4. Seni
Tari |
108 |
36 |
144 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
936 |
216 |
1.152 |
|
Muatan Lokalc) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.008 |
216 |
1.224 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
c) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.
Tabel
3. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk
lain yang sederajat kelas III-IV
(Asumsi
1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
144 |
36 |
180 |
|
Bahasa
Indonesia |
216 |
36 |
252 |
|
Matematika |
180 |
36 |
216 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial |
180 |
36 |
216 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
108 |
36 |
144 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni
Musik 2.
Seni
Rupa 3. Seni
Teater 4. Seni
Tari |
108 |
36 |
144 |
|
Bahasa Inggris |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.116 |
252 |
1.368 |
|
Muatan Lokalc) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.188 |
252 |
1.440 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
4. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk
lain yang sederajat kelas V
(Asumsi
1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi |
Alokasi |
Total JP |
|
Intrakurikuler |
Kokurikuler Per |
Per Tahun |
|
|
Per Tahun |
Tahun |
|
|
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
144 |
36 |
180 |
|
Bahasa
Indonesia |
216 |
36 |
252 |
|
Matematika |
180 |
36 |
216 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial |
180 |
36 |
216 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
108 |
36 |
144 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni
Musik 2.
Seni
Rupa 3. Seni
Teater 4. Seni
Tari |
108 |
36 |
144 |
|
Bahasa Inggris |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata Pelajaran Wajib |
1.116 |
252 |
1.368 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
72 |
- |
72 |
|
Muatan Lokald) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal |
1.188 |
252 |
1.440 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.260 |
252 |
1.512 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c) Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun
sebagai mata pelajaran pilihan.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
5. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk
lain yang sederajat kelas VI
(Asumsi
1 Tahun = 32 minggu dan 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
96 |
32 |
128 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
128 |
32 |
160 |
|
Bahasa Indonesia |
192 |
32 |
224 |
|
Matematika |
160 |
32 |
192 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial |
160 |
32 |
192 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
96 |
32 |
128 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni
Musik 2. Seni
Rupa 3. Seni
Teater 4. Seni
Tari |
96 |
32 |
128 |
|
Bahasa Inggris |
64 |
- |
64 |
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
992 |
224 |
1.216 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
64 |
- |
64 |
|
Muatan Lokald) |
64 |
- |
64 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal |
1.056 |
224 |
1.280 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.120 |
224 |
1.344 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
c)
Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per
tahun sebagai mata pelajaran pilihan.
d)
Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per tahun.
Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah dasar,
madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat secara umum.
1. Muatan pembelajaran kepercayaan untuk
penghayat
kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
2. Layanan bimbingan dan
konseling
dilaksanakan
sesuai
dengan
ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai bimbingan
dan konseling.
3. Muatan
Lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan
keunikan lokal berupa:
a.
seni budaya;
b. prakarya;
c.
pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
d. bahasa; dan/atau e. teknologi.
4. Muatan Lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a.
pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b. pengintegrasian ke dalam Kokurikuler;
dan/atau c. mata pelajaran yang
berdiri sendiri.
5. Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
di sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat
menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi
Peserta Didik.
6. Peserta
Didik
yang
memiliki
potensi
kecerdasan
istimewa
dapat
diberikan percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan
Capaian Pembelajaran sebagai layanan individual dan bukan dalam bentuk
rombongan belajar.
7. Mata
pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan
Artifisial
dapat
disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat
dipilih oleh Peserta Didik sesuai minatnya.
C.
Struktur Kurikulum Sekolah
Menengah Pertama, Madrasah
Tsanawiyah, atau Bentuk Lain yang Sederajat
Struktur Kurikulum
sekolah menengah pertama,
madrasah tsanawiyah, atau
bentuk lain yang sederajat sebagai berikut.
Tabel
6. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah,
atau bentuk lain yang sederajat kelas VII-VIII
(Asumsi
1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 40 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
72 |
36 |
108 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
72 |
36 |
108 |
|
Bahasa
Indonesia |
180 |
36 |
216 |
|
Matematika |
144 |
36 |
180 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam |
144 |
36 |
180 |
|
Ilmu
Pengetahuan Sosial |
108 |
36 |
144 |
|
Bahasa Inggris |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
72 |
36 |
108 |
|
Informatika |
72 |
36 |
108 |
|
Seni, Budaya,
dan Prakaryab) |
72 |
36 |
108 |
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 5. Prakarya Budi Daya 6. Prakarya Kerajinan 7. Prakarya Rekayasa 8. Prakarya Pengolahan |
|
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.044 |
360 |
1.404 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
72 |
- |
72 |
|
Muatan Lokald) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal |
1.116 |
360 |
1.476 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.188 |
360 |
1.548 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis
seni atau
prakarya
(seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya
kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik
memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater,
seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau
prakarya pengolahan).
c) Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun
sebagai mata pelajaran pilihan.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
7. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah,
atau bentuk lain yang sederajat Kelas IX
(Asumsi
1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 40 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
64 |
32 |
96 |
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
64 |
32 |
96 |
|
Bahasa
Indonesia |
160 |
32 |
192 |
|
Matematika |
128 |
32 |
160 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam |
128 |
32 |
160 |
|
Ilmu
Pengetahuan Sosial |
96 |
32 |
128 |
|
Bahasa Inggris |
96 |
32 |
128 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
64 |
32 |
96 |
|
Informatika |
64 |
32 |
96 |
|
Seni,
Budaya, dan Prakaryab) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 5. Prakarya Budi Daya 6. Prakarya Kerajinan 7. Prakarya Rekayasa 8. Prakarya Pengolahan |
64 |
32 |
96 |
|
Total JP
Mata
Pelajaran Wajib |
928 |
320 |
1.248 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
64 |
- |
64 |
|
Muatan Lokald) |
64 |
- |
64 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal |
992 |
320 |
1.312 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi |
Alokasi |
Total JP |
|
Intrakurikuler |
Kokurikuler Per |
Per |
|
|
Per Tahun |
Tahun |
Tahun |
|
|
Total JP Mata
Pelajaran |
1.056 |
320 |
1.376 |
|
Wajib + Mata
Pelajaran |
|||
|
Pilihan +
Muatan Lokal |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis
seni atau prakarya (seni
musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya
kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik
memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater,
seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau
prakarya pengolahan).
c)
Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per
tahun sebagai mata pelajaran pilihan.
d)
Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per tahun.
Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah
pertama/madrasah tsanawiyah/bentuk lain yang sederajat secara umum.
1. Muatan
pelajaran kepercayaan untuk
penghayat kepercayaan
terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
2. Layanan
bimbingan
dan
konseling
dilaksanakan
sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bimbingan dan konseling.
3. Muatan Lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:
a. seni budaya;
b.
prakarya;
c. pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
d. bahasa; dan/atau e. teknologi.
4.
Muatan Lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a. pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b.
pengintegrasian ke dalam Kokurikuler;
dan/atau
c. mata pelajaran yang berdiri sendiri.
5. Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
di sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, atau bentuk lain yang
sederajat menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan
kondisi Peserta Didik.
6. Peserta Didik yang
memiliki
potensi
kecerdasan
istimewa
dapat
diberikan
percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan Capaian
Pembelajaran sebagai layanan individual dan bukan dalam bentuk rombongan
belajar.
7. Kelas
khusus atau Satuan Pendidikan khusus olahraga atau seni
dapat
menggunakan alokasi waktu Kokurikuler sebagai penguatan kompetensi khusus
keolahragaan atau kesenian sesuai kebutuhan Peserta Didik.
8. Mata
pelajaran
pilihan
Koding
dan
Kecerdasan
Artifisial
dapat
disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih
oleh Peserta Didik sesuai minatnya.
9. Kurikulum pada Satuan Pendidikan dapat dirancang dengan
konsep diversifikasi. Konten diversifikasi dapat diambil dari kearifan
lokal, potensi daerah, atau program nasional yang relevan dengan kebutuhan dan
kondisi Satuan Pendidikan.
D. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah
Atas,
Madrasah
Aliyah,
atau
Bentuk
Lain yang Sederajat
Struktur Kurikulum sekolah menengah atas,
madrasah aliyah, atau bentuk
lain yang sederajat sebagai berikut.
Tabel
8. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau
bentuk lain yang sederajat kelas X
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler Per Tahun Alokasi
Kokurikuler Per Tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan
Agama Islam dan Budi
Pekertia) 72 36 108 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 72 - 72 Bahasa
Indonesia 108 36 144 Matematika 108 36 144 Ilmu Pengetahuan Alam: Fisika,
Kimia, Biologi 216 108 324 Ilmu
Pengetahuan Sosial: Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi 288 144 432 Bahasa
Inggris 108 - 108 Pendidikan
Jasmani Olahraga
dan Kesehatan 72 36 108 Informatika 72 - 72
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP
= 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Seni,
Budaya, dan Prakaryab) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 5. Prakarya Budi Daya 6. Prakarya Kerajinan 7. Prakarya Rekayasa 8. Prakarya Pengolahan |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.188 |
396 |
1.584 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
72 |
- |
72 |
|
Muatan Lokal d) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan/Muatan
Lokal |
1.260 |
396 |
1.656 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.332 |
396 |
1.728 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis
seni atau prakarya (seni
musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya
kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik
memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater,
seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau
prakarya pengolahan).
c)
Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun sebagai mata pelajaran pilihan.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas X sekolah menengah
atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat tidak dipisahkan menjadi
mata pelajaran yang lebih spesifik. Namun demikian, Satuan
Pendidikan dapat menentukan pengorganisasian muatan pelajaran. Pengorganisasian pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilakukan melalui
beberapa pendekatan sebagai berikut:
a. mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan
Sosial
secara terintegrasi;
b. mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan
Sosial secara bergantian dalam blok
waktu yang terpisah; atau
c.
mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan
Sosial secara paralel, dengan JP terpisah
seperti mata pelajaran
yang
berbeda-beda,
diikuti dengan unit pembelajaran inkuiri yang mengintegrasikan muatan-muatan
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut.
Fase F untuk kelas XI dan kelas XII, struktur mata pelajaran dibagi menjadi
2
(dua) kelompok utama, yaitu:
a.
Kelompok Mata Pelajaran Wajib
Setiap
sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat wajib
membuka atau mengajarkan seluruh mata pelajaran dalam kelompok ini dan wajib
diikuti oleh semua Peserta Didik sekolah menengah
atas, madrasah aliyah,
atau bentuk lain yang
sederajat.
b.
Kelompok Mata Pelajaran Pilihan
Setiap
sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat wajib
menyediakan paling sedikit 7 (tujuh) mata pelajaran pilihan.
Khusus untuk
sekolah yang ditetapkan pemerintah sebagai sekolah keolahragaan atau seni,
dapat dibuka mata pelajaran Olahraga atau Seni, sesuai dengan
sumber daya yang
tersedia di sekolah
menengah atas, madrasah
aliyah, atau bentuk lain yang sederajat.
Tabel
9. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau
bentuk lain yang sederajat kelas XI
Mata Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler Per Tahun Alokasi
Kokurikuler Per Tahun Total JP Per Tahun Mata Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 72 36 108 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 72 - 72 Bahasa
Indonesia 108 36 144 Matematika 108 36 144 Bahasa
Inggris 108 - 108 Pendidikan
Jasmani Olahraga
dan Kesehatan 72 36 108
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP
= 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Sejarah |
72 |
- |
72 |
|
Seni
dan Budayab) 1. Seni Musik 2.
Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
684 |
144 |
828 |
|
Mata
Pelajaran Pilihan |
|||
|
Matematika
Tingkat Lanjutc) |
720-900 |
- |
720-900 |
|
Fisikac) |
|||
|
Kimiac) |
|||
|
Biologic) |
|||
|
Geografic) |
|||
|
Sejarah Tingkat
Lanjutc) |
|||
|
Sosiologic) |
|||
|
Ekonomic) |
|||
|
Bahasa
Indonesia Tingkat Lanjutc) |
|||
|
Bahasa Inggris
Tingkat Lanjutc) |
|||
|
Bahasa Arabc) |
|||
|
Bahasa Jepangc) |
|||
|
Bahasa Jermanc) |
|||
|
Bahasa Koreac) |
|||
|
Bahasa Mandarinc) |
|||
|
Bahasa Prancisc) |
|||
|
Antropologic) |
|||
|
Informatikac) |
|||
|
Koding dan
Kecerdasan Artifisialc) |
|||
|
Prakarya dan Kewirausahaan
(budi daya,
kerajinan, rekayasa, atau pengolahan)d) |
|||
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
mata pelajaran lainnya yang
dikembangkan sesuai dengan sumber daya yang tersediae) |
|
|
|
|
Total
JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan |
1.404-1.584 |
144 |
1.548-1.728 |
|
Muatan Lokal f) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Waib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.476-1.656 |
144 |
1.620-1.800 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
c) Alokasi masing-masing mata pelajaran pilihan
yaitu 5 (lima)
JP per minggu atau 180
(seratus delapan puluh) JP per tahun.
d) Alokasi mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan yaitu 2 (dua) JP
per minggu atau 72 (tujuh puluh dua)
JP per tahun.
e) Peserta didik
memilih 4 (empat)
sampai 5 (lima)
mata pelajaran atau setara dengan 20 (dua puluh) sampai
25 (dua puluh lima) JP per minggu sesuai dengan kebutuhan Peserta
Didik dan sumber daya yang tersedia di Satuan Pendidikan.
f) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
10. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau
bentuk lain yang sederajat kelas XII
(Asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Mata
Pelajaran Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
64 |
32 |
96 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
64 |
- |
64 |
|
Bahasa
Indonesia |
96 |
32 |
128 |
|
Matematika |
96 |
32 |
128 |
|
Bahasa Inggris |
96 |
- |
96 |
|
Seni dan Budayab) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
64 |
- |
64 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
64 |
32 |
96 |
|
Sejarah |
64 |
- |
64 |
|
Jumlah JP Mata
Pelajaran Wajib |
608 |
128 |
736 |
|
Mata
Pelajaran Pilihan |
|||
|
Matematika
Tingkat Lanjutc) |
640 - 800 |
- |
640 - 800 |
|
Fisikac) |
|||
|
Kimiac) |
|||
|
Biologic) |
|||
|
Geografic) |
|||
|
Sejarah Tingkat
Lanjutc) |
|||
|
Sosiologic) |
|||
|
Ekonomic) |
|||
|
Bahasa
Indonesia Tingkat Lanjutc) |
|||
|
Bahasa Inggris
Tingkat Lanjutc) |
|||
|
Bahasa Arabc) |
|||
|
Bahasa Jepangc) |
|||
|
Bahasa Jermanc) |
|||
|
Bahasa Koreac) |
|||
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi |
Alokasi |
Total JP Per |
|
Intrakurikuler |
Kokurikuler |
Tahun |
|
|
Per Tahun |
Per Tahun |
|
|
|
Bahasa Mandarinc) |
|
|
|
|
Bahasa Prancisc) |
|
|
|
|
Antropologic) |
|
|
|
|
Informatikac) |
|
|
|
|
Koding dan
Kecerdasan |
|
|
|
|
Artifisialc) |
|
|
|
|
Prakarya dan |
|
|
|
|
Kewirausahaan
(budi daya, kerajinan, rekayasa, atau pengolahan)d) |
|
|
|
|
mata pelajaran
lainnya |
|
|
|
|
yang
dikembangkan |
|
|
|
|
sesuai dengan
sumber |
|
|
|
|
daya yang
tersediae) |
|
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran |
1.248-1.408 |
128 |
1.376- |
|
Wajib + Mata
Pelajaran |
1.536 |
||
|
Pilihan |
|
||
|
Muatan
lokal f) |
64 |
- |
64 |
|
Total JP Mata Pelajaran |
1.312-1.472 |
128 |
1.440-1.600 |
|
Wajib+ Mata
Pelajaran |
|||
|
Pilihan +
Muatan Lokal |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan
agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis
seni dan budaya (seni
musik, seni rupa,
seni teater, dan/atau
seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni
dan budaya (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).
c) Alokasi masing-masing mata pelajaran pilihan
yaitu 5 (lima)
JP per minggu atau 160
(seratus enam puluh) JP per tahun.
d)
Alokasi mata pelajaran
Prakarya dan Kewirausahaan yaitu 2 (dua) JP
per
minggu atau 64 (enam puluh empat) JP per tahun.
e)
Peserta didik
memilih 4 (empat)
sampai 5 (lima)
mata pelajaran atau
setara
dengan 20 (dua puluh) sampai 25 (dua puluh lima) JP per minggu sesuai dengan kebutuhan
Peserta Didik dan sumber daya yang
tersedia di Satuan Pendidikan.
f) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per
tahun.
Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah
atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat secara umum.
1. Satuan Pendidikan wajib membuka kelompok
mata pelajaran wajib serta paling sedikit 7 (tujuh) mata
pelajaran pilihan.
2.
Setiap Peserta Didik wajib mengikuti
a. seluruh mata pelajaran dalam kelompok mata
pelajaran wajib dan
b.
memilih 4 (empat) sampai dengan 5 (lima) mata pelajaran dari kelompok mata
pelajaran pilihan yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan, disesuaikan
dengan minat, bakat, dan kemampuan Peserta Didik.
3. Peserta Didik diperbolehkan mengganti
mata pelajaran pilihan paling
lambat kelas XI semester 2 (dua) berdasarkan Penilaian ulang Satuan Pendidikan
terhadap minat, bakat, dan kemampuan Peserta Didik.
4. Muatan pelajaran kepercayaan untuk
penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Layanan
bimbingan
dan
konseling
dilaksanakan
sesuai
dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bimbingan dan konseling.
6. Muatan lokal merupakan
muatan pembelajaran tentang
potensi dan keunikan lokal berupa:
a. seni budaya;
b. prakarya;
c. pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
d.
bahasa; dan/atau
e. teknologi.
7.
Muatan lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a.
pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b. pengintegrasian ke dalam tema
Kokurikuler; dan/atau c. mata
pelajaran yang berdiri sendiri.
8. Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
di
sekolah
menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat menambahkan
mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi Peserta Didik.
9. Peserta
Didik
yang
memiliki
potensi
kecerdasan
istimewa
dapat
diberikan percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan
Capaian Pembelajaran terkait Kurikulum sebagai layanan individual dan bukan
dalam bentuk rombongan belajar.
10. Kelas khusus atau Satuan Pendidikan khusus olahraga atau seni
dapat menggunakan alokasi waktu Kokurikuler sebagai penguatan kompetensi khusus
keolahragaan atau kesenian sesuai kebutuhan Peserta Didik.
11.
Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan salah
satu
mata pelajaran
pilihan yang dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang
dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minat.
E. Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah
Kejuruan atau Madrasah
Aliyah
Kejuruan
Struktur Kurikulum sekolah menengah kejuruan
atau madrasah aliyah kejuruan sebagai berikut.
Tabel
11. Struktur Kurikulum kelas X sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah
kejuruan
(Asumsi
1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Umum |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
108 |
- |
108 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
72 |
- |
72 |
|
Bahasa
Indonesia |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan |
108 |
- |
108 |
|
Sejarah |
72 |
- |
72 |
|
Seni dan Budayab) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum |
540 |
36 |
576 |
|
Mata Pelajaran
Kejuruan |
|||
|
Matematika |
108 |
36 |
144 |
|
Bahasa Inggris |
108 |
36 |
144 |
|
Informatika |
108 |
36 |
144 |
|
Projek
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosialc) |
180 |
36 |
216 |
|
Dasar-Dasar
Program Keahliand) |
432 |
- |
432 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Kejuruan |
936 |
144 |
1.080 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Umum+ Mata Pelajaran Kejuruan |
1.476 |
180 |
1.656 |
|
Mata Pelajaran
Pilihan |
|||
|
Koding dan Kecerdasan Artifisiale) |
72 |
- |
72 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Total JP Mata
Pelajaran Pilihan |
72 |
- |
72 |
|
Muatan Lokal f) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata
Pelajaran Kejuruan + Mata Pelajaran Pilihan/ Muatan Lokal |
1.548 |
180 |
1.728 |
|
Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata
Pelajaran Kejuruan + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal |
1.620 |
180 |
1.800 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing- masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c) Proporsi JP antara aspek Ilmu Pengetahuan Alam dan aspek Ilmu
Pengetahuan Sosial disesuaikan dengan kebutuhan Program
Keahlian. d) Nama
mata pelajaran menyesuaikan nama Program Keahlian.
e) Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun sebagai mata pelajaran pilihan.
f) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
12. Struktur Kurikulum kelas XI sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah
kejuruan
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler Per Tahun Alokasi
Kokurikuler Per Tahun Total JP
Per Tahun Mata
Pelajaran Umum Pendidikan
Agama Islam dan Budi
Pekertia) 90 18 108 Pendidikan
Agama Kristen dan Budi
Pekertia) Pendidikan
Agama Katolik dan Budi
Pekertia) Pendidikan
Agama Buddha dan Budi
Pekertia) Pendidikan
Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 54 18 72
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP
= 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Bahasa
Indonesia |
90 |
18 |
108 |
|
Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan |
54 |
18 |
72 |
|
Sejarah |
54 |
18 |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum |
342 |
90 |
432 |
|
Mata Pelajaran
Kejuruan |
|||
|
Matematika |
90 |
18 |
108 |
|
Bahasa Inggris |
108 |
36 |
144 |
|
Konsentrasi
Keahlianb) |
648 |
- |
648 |
|
Kreativitas,
Inovasi, dan Kewirausahaan |
180 |
- |
180 |
|
Mata Pelajaran
Pilihanc) |
144 |
- |
144 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Kejuruan |
1.170 |
54 |
1.224 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan |
1.512 |
144 |
1.656 |
|
Muatan Lokal d) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal |
1.584 |
144 |
1.728 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan
agama masing-masing.
b)
Nama mata pelajaran sesuai dengan nama
Konsentrasi Keahlian.
c)
Nama
mata pelajaran merupakan
mata pelajaran yang dipilih oleh
Peserta
Didik.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
13. Struktur Kurikulum kelas XII sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah
kejuruan program 3 (tiga) tahun
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler Per Tahun Alokasi
Kokurikuler Per Tahun Total JP
Per Tahun Mata Pelajaran
Umum Pendidikan
Agama Islam dan Budi
Pekertia) 32 16 48 Pendidikan
Agama Kristen dan Budi
Pekertia)
(Asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP
= 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
32 |
- |
32 |
|
Bahasa
Indonesia |
32 |
16 |
48 |
|
Jumlah JP Mata
Pelajaran Umum |
96 |
32 |
128 |
|
Mata Pelajaran
Kejuruan |
|||
|
Matematika |
48 |
- |
48 |
|
Bahasa Inggris |
64 |
- |
64 |
|
Konsentrasi
Keahlianb) |
352 |
- |
352 |
|
Kreativitas,
Inovasi, dan Kewirausahaan |
80 |
- |
80 |
|
Praktik Kerja
Lapanganc) |
736 |
- |
736 |
|
Mata Pelajaran
Pilihand) |
64 |
|
64 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Kejuruan |
1.344 |
- |
1.344 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum +Mata Pelajaran
Kejuruan |
1.440 |
32 |
1.472 |
|
Muatan Lokal(e) |
32 |
- |
32 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal |
1.472 |
32 |
1.504 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing- masing.
b)
Nama mata pelajaran sesuai dengan
konsentrasi keahlian.
c) Mata pelajaran Praktik
Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan paling sedikit selama 1 semester atau 16
(enam belas) minggu efektif.
d) Nama
mata pelajaran merupakan
mata pelajaran yang dipilih oleh
Peserta Didik.
e) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 32 (tiga puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
14. Struktur Kurikulum kelas XII sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah
kejuruan program 4 (empat) tahun
(Asumsi
1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Umum |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
90 |
18 |
108 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
54 |
18 |
72 |
|
Bahasa
Indonesia |
90 |
18 |
108 |
|
Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan |
54 |
18 |
72 |
|
Sejarah |
54 |
18 |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum |
342 |
90 |
432 |
|
Mata Pelajaran
Kejuruan |
|||
|
Matematika |
90 |
18 |
108 |
|
Bahasa Inggris |
108 |
36 |
144 |
|
Konsentrasi
Keahlianb) |
648 |
- |
648 |
|
Kreativitas,
Inovasi, dan Kewirausahaan |
180 |
- |
180 |
|
Mata Pelajaran
Pilihanc) |
144 |
- |
144 |
|
Total JP Mata Pelajaran Kejuruan |
1.170 |
54 |
1.224 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum +Mata Pelajaran
Kejuruan |
1.512 |
144 |
1.656 |
|
Muatan Lokal d) |
72 |
- |
72 |
|
Total
JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal |
1.584 |
144 |
1.728 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing- masing. b) Nama
mata pelajaran sesuai dengan nama konsentrasi keahlian.
c)
Nama
mata pelajaran merupakan
mata pelajaran yang dipilih oleh
Peserta Didik.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
15. Struktur Kurikulum kelas XIII sekolah menengah kejuruan atau madrasah
aliyah kejuruan program 4 (empat) tahun
(Asumsi 1 tahun = 32 minggu, dan 1 JP = 45
menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler Per Tahun |
Alokasi Kokurikuler Per Tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Umum |
|||
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum |
- |
- |
- |
|
Mata Pelajaran
Kejuruan |
|||
|
Matematika |
64 |
- |
64 |
|
Bahasa Inggris |
192 |
- |
192 |
|
Praktik Kerja
Lapangana) |
1.216 |
- |
1.216 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Kejuruan |
1.472 |
- |
1.472 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Umum +Mata Pelajaran
Kejuruan |
1.472 |
- |
1.472 |
Keterangan:
a) Mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan
dilaksanakan paling sedikit selama 10 (sepuluh) bulan atau 26
(dua puluh enam) minggu efektif.
Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah
kejuruan/madrasah aliyah kejuruan secara umum.
1. Mata
pelajaran Matematika, mata
pelajaran Bahasa Inggris,
mata
pelajaran Informatika, dan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan
Artifisial
dilaksanakan sesuai dengan konteks program keahlian.
2. Mata pelajaran Projek Ilmu
Pengetahuan
Alam
dan
Sosial
berisi
muatan
tentang literasi ilmu pengetahuan alam dan sosial yang diformulasikan dalam
tema-tema kehidupan yang kontekstual dan aktual.
3. Mata
pelajaran Dasar-Dasar Program
Keahlian dan mata pelajaran
Konsentrasi Keahlian
berisi kompetensi minimum
dan dapat ditambah oleh Satuan Pendidikan bersama
mitra dunia kerja sesuai kebutuhan dunia kerja.
4. Mata pelajaran
Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan dilaksanakan melalui pendekatan
pembelajaran berbasis projek untuk mengaktualisasikan kompetensi yang dikuasai
melalui pengembangan
produk/layanan jasa secara kreatif dan inovatif pada kegiatan wirausaha.
5. Mata
pelajaran PKL merupakan
wahana pembelajaran di dunia kerja
untuk
memberikan kesempatan kepada Peserta Didik meningkatkan penguasaan kompetensi teknis (technical skills) sesuai dengan
konsentrasi keahliannya serta
menginternalisasi karakter dan budaya
kerja (soft skills).
6. Mata
pelajaran
PKL
dilaksanakan
secara
blok
dengan
asumsi
46
(empat puluh enam) JP per minggu.
7. Mata pelajaran pilihan merupakan mata pelajaran yang dipilih Peserta Didik berdasarkan minat untuk
berwirausaha, bekerja
pada bidangnya, maupun melanjutkan
pendidikan.
8. Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan salah
satu mata pelajaran pilihan
yang dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki
dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minat.
9. Muatan pelajaran
kepercayaan untuk penganut
kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
10.
Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan mengenai Bimbingan dan Konseling.
11. Muatan
lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:
a. seni budaya;
b. prakarya;
c. pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
d.
bahasa; dan/atau
e. teknologi.
12. Muatan lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a.
pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b. pengintegrasian ke dalam tema
Kokurikuler; dan/atau c. mata
pelajaran yang berdiri sendiri.
13.
Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
di
sekolah
menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan/bentuk lain yang sederajat
menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi
Peserta Didik.
F. Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar
Luar Biasa dan Madrasah Ibtidaiyah
Luar Biasa
Struktur Kurikulum sekolah dasar luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa sebagai
berikut.
Tabel
16. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa kelas I
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi Kokurikuler
per tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 108 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia)
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP =
30 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
72 |
- |
72 |
|
Bahasa
Indonesia |
108 |
36 |
144 |
|
Matematika |
72 |
- |
72 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
72 |
- |
72 |
|
Seni dan Budaya(b) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
252 |
108 |
360 |
|
Program
Kebutuhan Khusus(c) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4. Pengembangan diri dan pengembangan
gerak (penyandang disabilitas fisik) 5. Pengembangan komunikasi,
interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental) |
216 |
- |
216 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
900 |
180 |
1.080 |
|
Muatan Lokal(d) |
72 |
- |
72 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi |
Alokasi |
Total JP Per |
|
Intrakurikuler |
Kokurikuler |
Tahun |
|
|
per tahun |
per tahun |
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
972 |
180 |
1.152 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c) Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
17. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa kelas II
(Asumsi
1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 30 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
72 |
- |
72 |
|
Bahasa
Indonesia |
108 |
36 |
144 |
|
Matematika |
108 |
36 |
144 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
72 |
- |
72 |
|
Seni dan Budaya(b) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa |
252 |
108 |
360 |
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
3. Seni Teater 4. Seni Tari |
|
|
|
|
Program Kebutuhan Khusus(c) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) 5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
216 |
- |
216 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
936 |
216 |
1.152 |
|
Muatan Lokal(d) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.008 |
216 |
1.224 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
c)
Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
18. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa kelas III-IV
Mata
Pelajaran Alokasi Intrakurikuler
per tahun Alokasi
Kokurikuler per tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 108 36 144 Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 72 - 72 Bahasa
Indonesia 72 36 108 Matematika 72 36 108 Ilmu Pengetahuan Alam dan
Sosial 72 - 72 Pendidikan
Jasmani Olahraga
dan Kesehatan 72 - 72 Seni dan
Budaya(b) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 360 144 504 Program
Kebutuhan Khusus(c) 1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi
(penyandang disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi, persepsi
bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 216 - 216
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP =
30 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) 5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
|
|
|
|
Bahasa Inggris |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.116 |
252 |
1.368 |
|
Muatan Lokal(d) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.188 |
252 |
1.440 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c)
Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
d) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel 19. Alokasi
waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan dan madrasah ibtidaiyah luar
biasa kelas V
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi
Kokurikuler per tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 108 36 144 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia)
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP =
30 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
|||
|
Pendidikan
Pancasila |
72 |
- |
72 |
|
Bahasa
Indonesia |
108 |
36 |
144 |
|
Matematika |
108 |
36 |
144 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial |
72 |
- |
72 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
72 |
- |
72 |
|
Seni dan Budaya(b) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
360 |
144 |
504 |
|
Program
Kebutuhan Khusus(c) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4. Pengembangan diri dan pengembangan
gerak (penyandang disabilitas fisik) 5. Pengembangan komunikasi,
interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental) |
144 |
- |
144 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Bahasa Inggris |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.116 |
252 |
1.368 |
|
Muatan Lokal(d) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.188 |
252 |
1.440 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
c)
Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
d) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
20. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa kelas VI
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi
Kokurikuler per tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 96 32 128 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Pancasila 54 - 64 Bahasa
Indonesia 96 32 128 Matematika 96 32 128 Ilmu Pengetahuan Alam dan
Sosial 54 - 64
(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP =
30 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatan |
54 |
- |
64 |
|
Seni dan Budaya(b) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
320 |
128 |
448 |
|
Program
Kebutuhan Khusus(c) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4. Pengembangan diri dan pengembangan
gerak (penyandang disabilitas fisik) 5. Pengembangan komunikasi,
interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental) |
128 |
- |
128 |
|
Bahasa Inggris |
64 |
- |
64 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
992 |
224 |
1.216 |
|
Muatan Lokal(d) |
64 |
- |
64 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.056 |
224 |
1.280 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
c)
Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
d)
Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per tahun.
G. Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah
Pertama Luar Biasa
dan Madrasah
Tsanawiyah Luar Biasa
Struktur Kurikulum sekolah menengah
pertama luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa sebagai
berikut.
Tabel
21. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan
madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas VII
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi Kokurikuler
per tahun Total JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan
Agama Islam dan Budi
Pekertia,b) 54 18 72 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia,b) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan
Pancasilab) 54 18 72 Bahasa
Indonesiab) 54 18 72 Matematikab) 54 18 72 Ilmu Pengetahuan
Alamb) 54 18 72 Ilmu
Pengetahuan Sosialb) 54 18 72 Bahasa
Inggrisb) 54 18 72 Pendidikan Jasmani Olahraga
dan Kesehatanb) 54 18 72 Seni dan
Budayab,c) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 54 18 72
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP =
35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari 17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
468 |
144 |
612 |
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2.
Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang
disabilitas rungu) 3. Pengembangan diri (penyandang
disabilitas intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) |
108 |
- |
108 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
|
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.062 |
306 |
1.368 |
|
Muatan Lokalf) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.134 |
306 |
1.440 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran tidak penuh
36
(tiga
puluh
enam)
minggu
untuk
memenuhi
alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh tujuh)
minggu untuk Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu
Pengetahuan Sosial, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
(PJOK), dan Seni dan Budaya.
c) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
d) Peserta Didik memilih minimal 2 (dua)
keterampilan. e) Dipilih
sesuai jenis hambatan Peserta Didik.
f) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
22. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan
madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas VIII
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia,b) |
54 |
18 |
72 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia,b) |
|||
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia,b) |
|
|
|
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Pancasilab) |
54 |
18 |
72 |
|
Bahasa
Indonesiab) |
54 |
18 |
72 |
|
Matematikab) |
54 |
18 |
72 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alamb) |
54 |
18 |
72 |
|
Ilmu
Pengetahuan Sosialb) |
54 |
18 |
72 |
|
Bahasa Inggrisb) |
54 |
18 |
72 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatanb) |
54 |
18 |
72 |
|
Seni dan Budayab,c) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
54 |
18 |
72 |
|
Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari |
468 |
144 |
612 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
|
|
|
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4. Pengembangan diri dan pengembangan
gerak (penyandang disabilitas fisik) 5. Pengembangan komunikasi,
interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental) |
108 |
- |
108 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.062 |
306 |
1.368 |
|
Muatan Lokalf) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan Lokal |
1.134 |
306 |
1.440 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran tidak penuh
36
(tiga
puluh
enam)
minggu
untuk
memenuhi
alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh tujuh)
minggu untuk Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu
Pengetahuan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan
Seni dan Budaya.
c) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
d) Peserta Didik memilih 1 (satu)
keterampilan.
e)
Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta
Didik.
f) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel 23. Alokasi
waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah
ibtidaiyah luar biasa kelas IX
(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP = 35 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia,b) |
48 |
16 |
64 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Pancasilab) |
48 |
16 |
64 |
|
Bahasa Indonesiab) |
48 |
16 |
64 |
|
Matematikab) |
48 |
16 |
64 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alamb) |
48 |
16 |
64 |
|
Ilmu
Pengetahuan Sosialb) |
48 |
16 |
64 |
|
Bahasa Inggrisb) |
48 |
16 |
64 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatanb) |
48 |
16 |
64 |
|
Seni dan Budayab,c) |
48 |
16 |
64 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
|
|
|
|
Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari 17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
416 |
128 |
544 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total JP Per Tahun |
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2.
Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang
disabilitas rungu) 3. Pengembangan diri (penyandang
disabilitas intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) 5. Pengembangan komunikasi,
interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental) |
96 |
- |
96 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
944 |
272 |
1.216 |
|
Muatan Lokalf) |
64 |
- |
64 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.008 |
272 |
1.280 |
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran
tidak
penuh
32
(tiga
puluh
dua)
minggu
untuk
memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 24 (dua puluh empat)
minggu untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa
Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.
c) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
d) Peserta Didik memilih 1 (satu)
keterampilan. e) Dipilih
sesuai jenis hambatan Peserta Didik.
f) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per
tahun.
H.
Struktur Kurikulum Sekolah
Menengah Atas Luar Biasa dan Madrasah
Aliyah Luar Biasa
Struktur Kurikulum sekolah menengah
atas luar biasa
dan madrasah aliyah luar
biasa sebagai berikut.
Tabel
24. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madrasah
aliyah luar biasa kelas X
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi
Kokurikuler per tahun Total
JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia,b) 54 18 72 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia,b) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan
Pancasilab) 54 18 72 Bahasa
Indonesiab) 54 18 72 Matematikab) 54 18 72 Ilmu
Pengetahuan Alamb) 54 18 72 Ilmu
Pengetahuan Sosialb) 54 18 72 Bahasa
Inggrisb) 54 18 72 Pendidikan
Jasmani Olahraga
dan Kesehatanb) 54 18 72 Seni dan
Budayab,c) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 54 18 72 Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 648 216 864
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP =
40 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari 17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
|
|
|
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2.
Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang
disabilitas rungu) 3. Pengembangan diri (penyandang
disabilitas intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) 5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
72 |
- |
72 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.206 |
378 |
1.584 |
|
Muatan Lokalf) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.278 |
378 |
1.656 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran
tidak
penuh
36
(tiga
puluh
enam)
minggu
untuk
memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh tujuh)
minggu untuk Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan
Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan
Budaya.
c) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
d) Peserta Didik memilih 1 (satu)
keterampilan. e) Dipilih
sesuai jenis hambatan Peserta Didik.
f) Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.
Tabel
25. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madrasah
aliyah luar biasa kelas XI
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 40 menit)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Mata Pelajaran
Wajib |
|||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia,b) |
54 |
18 |
72 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b) |
|||
|
Pendidikan
Pancasilab) |
54 |
18 |
72 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Bahasa
Indonesiab) |
54 |
18 |
72 |
|
Matematikab) |
54 |
18 |
72 |
|
Ilmu
Pengetahuan Alamb) |
54 |
18 |
72 |
|
Ilmu
Pengetahuan Sosialb) |
54 |
18 |
72 |
|
Bahasa Inggrisb) |
54 |
18 |
72 |
|
Pendidikan
Jasmani Olahraga dan
Kesehatanb) |
54 |
18 |
72 |
|
Seni dan Budayab,c) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari |
54 |
18 |
72 |
|
Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari 17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
720 |
216 |
936 |
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, |
72 |
- |
72 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2.
Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang
disabilitas rungu) 3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas
intelektual) 4.
Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas
fisik) 5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
|
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.278 |
378 |
1.656 |
|
Muatan Lokalf) |
72 |
- |
72 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.350 |
378 |
1.728 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran tidak penuh
36
(tiga
puluh
enam)
minggu
untuk
memenuhi
alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh tujuh)
minggu untuk Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan
Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan
Budaya.
c) Satuan
Pendidikan menyediakan minimal
1 (satu) jenis seni (seni
musik,
seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni
tari).
d) Peserta Didik memilih 1 (satu)
keterampilan. e) Dipilih
sesuai jenis hambatan Peserta Didik.
f) Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per
tahun.
Tabel
26. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madarasah
aliyah luar biasa kelas XII
Mata
Pelajaran Alokasi
Intrakurikuler per tahun Alokasi
Kokurikuler per tahun Total
JP Per Tahun Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia,b) 48 16 64 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Katolik dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Buddha dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan Agama Hindu dan Budi
Pekertia,b) Pendidikan Agama Khonghucu dan
Budi Pekertia,b) Pendidikan
Pancasilab) 48 16 64 Bahasa
Indonesiab) 48 16 64 Matematikab) 48 16 64 Ilmu
Pengetahuan Alamb) 48 16 64 Ilmu
Pengetahuan Sosialb) 48 16 64 Bahasa
Inggrisb) 48 16 64 Pendidikan
Jasmani Olahraga
dan Kesehatanb) 48 16 64 Seni dan Budayab,c) 1. Seni Musik 2. Seni Rupa 3. Seni Teater 4. Seni Tari 48 16 64
(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP =
40)
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
Kelompok
Keterampiland) 1. Tata Busana 2. Tata Boga 3. Tata Kecantikan 4. Tata Gerha 5. Teknologi Informasi Komunikasi 6. Perbengkelan Sepeda Motor 7. Cetak Saring/Sablon 8. Seni Membatik 9. Suvenir 10. Budidaya Tanaman Hortikultura 11. Pijat/Akupresur 12. Teknik Penyiaran Radio 13. Seni Musik 14. Fotografi 15. Desain Grafis 16. Seni Tari 17. Seni Lukis 18. Elektronika Alat Rumah Tangga 19. Budidaya Perikanan 20. Budidaya Peternakan 21. Koding dan Kecerdasan Artifisial |
640 |
192 |
832 |
|
Program
Kebutuhan Khususe) 1.
Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang
disabilitas netra) 2. Pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu) 3.
Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual) 4. Pengembangan diri dan pengembangan
gerak (penyandang disabilitas fisik) |
64 |
- |
64 |
jdih.kemendikdasmen.go.id
|
Mata Pelajaran |
Alokasi Intrakurikuler per tahun |
Alokasi Kokurikuler per tahun |
Total
JP Per Tahun |
|
5.
Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang
disabilitas mental) |
|
|
|
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib |
1.136 |
336 |
1.472 |
|
Muatan Lokalf) |
64 |
- |
64 |
|
Total JP Mata
Pelajaran Wajib + Muatan
Lokal |
1.200 |
336 |
1.536 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Pembelajaran
tidak
penuh
32
(tiga
puluh
dua)
minggu
untuk
memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 24 (dua puluh empat)
minggu untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa
Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani,
Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.
c) Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater,
atau seni tari).
d) Peserta Didik memilih 1 (satu)
keterampilan. e) Dipilih
sesuai jenis hambatan Peserta Didik.
f)
Paling
banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP
per
tahun.
Berikut merupakan penjelasan dari struktur
Kurikulum sekolah luar biasa
secara umum.
1. Mata pelajaran Bahasa Inggris untuk
sekolah menengah pertama
luar biasa dan sekolah menengah atas luar biasa wajib diberikan untuk
Peserta Didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual, sementara untuk
Peserta Didik dengan hambatan intelektual bersifat pilihan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik Peserta
Didik dengan mengacu pada hasil asesmen.
2. Kelompok keterampilan (untuk sekolah menengah pertama luar biasa
dan sekolah menengah atas luar biasa) dan mata pelajaran Seni dan Budaya untuk
sekolah dasar luar biasa didasarkan pada penekanan kemandirian dan pengembangan
keterampilan adaptif anak.
3. Mata
pelajaran Seni dan Budaya di sekolah menengah
pertama luar
biasa
dan sekolah menengah atas luar biasa pada kelompok mata pelajaran umum
berfungsi sebagai sarana apresiasi dan terapi, sedangkan mata pelajaran Seni pada kelompok
keterampilan berfungsi sebagai
pembekalan untuk profesi.
4. Satuan Pendidikan dapat mengembangkan jenis keterampilan secara mandiri sesuai dengan kebutuhan, karakteristik
daerah, dan ketersediaan sumber daya manusia.
5. Satuan
Pendidikan
dapat
mengembangkan
Capaian
Pembelajaran
keterampilan sesuai konteks daerah dan dapat menyelaraskannya dengan Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) atau Standar Kompetensi Kerja
Khusus Penyandang Disabilitas (SK3PD) yang relevan.
6. Program Kebutuhan
Khusus menjadi muatan wajib di taman kanak- kanak luar biasa. Sedangkan di
sekolah dasar luar biasa, sekolah menengah pertama luar biasa, dan sekolah
menengah atas luar biasa Program Kebutuhan Khusus menjadi mata pelajaran wajib
dengan pertimbangan mempersiapkan Peserta
Didik agar mampu hidup mandiri di lingkungan
masyarakat.
7. Program
Kebutuhan
Khusus
bertujuan
untuk
membantu
anak
memaksimalkan indera yang dimilikinya dan mengatasi keterbatasannya.
8. Penentuan Fase pada Peserta
Didik didasarkan pada hasil asesmen diagnostik, sehingga pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Peserta Didik.
9. Asesmen
fungsional
dilakukan
oleh
Pendidik
untuk
memperoleh
informasi secara menyeluruh berkaitan dengan kondisi, hambatan, dan kebutuhan
Peserta Didik berkebutuhan khusus untuk dijadikan dasar dalam merancang
perangkat pembelajaran.
10. Peserta Didik berkebutuhan khusus yang tidak memiliki hambatan intelektual di sekolah luar biasa atau Satuan Pendidikan umum dapat
menggunakan struktur Kurikulum dan Capaian Pembelajaran pendidikan umum sesuai
jenjangnya dengan menerapkan prinsip- prinsip akomodasi Kurikulum.
11. Peserta Didik berkebutuhan khusus dari sekolah
luar biasa dapat melanjutkan pendidikannya ke Satuan
Pendidikan umum dengan mengikuti kelas transisi.
12.
Alokasi waktu
belajar bersifat fleksibel sehingga Satuan Pendidikan
dapat menyesuaikan beban belajar dengan karakteristik, kebutuhan belajar dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain.
13.
Muatan pelajaran
kepercayaan untuk penganut
kepercayaan kepada
Tuhan
Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
14.
Muatan
lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:
a.
seni budaya;
b. prakarya;
c. pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;
d. bahasa; dan/atau e. teknologi.
15. Muatan lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a. pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b.
pengintegrasian ke dalam tema
Kokurikuler; dan/atau
c. mata pelajaran yang berdiri sendiri.
16. Peserta Didik sekolah menengah atas luar
biasa kelas XI wajib melaksanakan PKL untuk mata pelajaran
keterampilan paling sedikit
1 (satu)
bulan atau sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan Peserta
Didik
di lingkungan masyarakat atau dunia kerja.
I. Struktur Kurikulum Satuan
Pendidikan Penyelenggara Pendidikan
Kesetaraan
Struktur
Kurikulum Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan kesetaraan disusun
dalam Program Paket A, Program
Paket B, dan Program
Paket C yang terdiri atas mata pelajaran dan/atau muatan wajib serta kelompok
muatan pemberdayaan dan keterampilan. Kelompok mata pelajaran wajib memuat mata
pelajaran yang disusun mengacu pada standar nasional pendidikan sesuai dengan
pendidikan formal dan merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan untuk semua
Peserta Didik.
Kelompok
muatan pemberdayaan dan keterampilan mencakup keterampilan okupasional,
fungsional, vokasional, sikap dan kepribadian profesional, dan jiwa wirausaha mandiri yang dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik pendidikan kesetaraan serta berbasis profil
lulusan. Pemberdayaan dan keterampilan dimaksud dijelaskan sebagai berikut.
a. Pemberdayaan memuat kompetensi untuk
menumbuhkan keberdayaan, harga diri,
percaya diri sehingga Peserta Didik mampu mandiri dan berkreasi dalam kehidupan bermasyarakat. Materi-materi untuk mencapai kompetensi dapat meliputi
pengembangan diri dan pengembangan kapasitas untuk mendukung keterampilan yang dipilih Peserta
Didik.
b. Keterampilan diberikan dengan
memperhatikan variasi
potensi sumber daya daerah yang ada,
kebutuhan Peserta Didik, dan peluang kesempatan kerja yang tersedia sehingga
Peserta Didik mampu melakukan aktualisasi kemandirian, otonomi, kebebasan, dan
kreativitas dalam berkarya untuk mengisi ruang publik secara produktif.
Muatan
belajar program pendidikan kesetaraan dinyatakan dalam Satuan Kredit Kompetensi
(SKK) yang menunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh Peserta Didik
dalam mengikuti program pembelajaran, baik melalui tatap muka, kegiatan belajar
mandiri, dan/atau tutorial. 1 (satu) SKK adalah 1 (satu) satuan kompetensi yang
dicapai melalui pembelajaran
1
(satu) jam pembelajaran tatap muka atau 2 (dua) jam pembelajaran tutorial atau
3 (tiga) jam pembelajaran mandiri, atau kombinasi secara proporsional dari ketiganya. 1 (satu) jam tatap muka yang dimaksud
adalah
1
(satu) jam pembelajaran, yaitu sama dengan 35 (tiga puluh lima) menit untuk
Program Paket A, 40 (empat puluh) menit untuk Program Paket B, dan 45 (empat
puluh lima) menit untuk Program Paket C.
Tabel 27. Struktur Kurikulum
Program Paket A
Mata Bobot Satuan Kredit Kompetensi Pelajaran/Muatan Fase A Fase B Fase C TOTAL Pemberdayaan
dan SKK Keterampilan VI) Mata
Pelajaran Wajib Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekertia) 48 62 62 172 Pendidikan Agama Kristen dan
Budi Pekertia)
(Kelas I – II)(Kelas III– IV)
(Kelas V –
Mata Bobot
Satuan Kredit Kompetensi Pelajaran/Muatan Fase A Fase B Fase C TOTAL Pemberdayaan
dan SKK Keterampilan VI) Pendidikan
Agama Katolik dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Agama Buddha dan
Budi Pekertia) Pendidikan
Agama Hindu dan Budi
Pekertia) Pendidikan
Agama Khonghucu
dan Budi Pekertia) Pendidikan Pancasila Bahasa Indonesia Matematika PJOK Seni dan Budaya Ilmu
Pengetahuan Alam - dan Sosial Bahasa Inggris - Muatan Pemberdayaan dan
Keterampilanb) Pemberdayaan 14 14 14 42 Keterampilan Total SKK
Mata Pelajaran 62 76 76 214 Wajib +
Muatan Pemberdayaan
dan Keterampilan Muatan
Lokalc) 2 2 2 6 Total
SKK Kelompok Mata 64 78 78 220 Pelajaran
Wajib + Muatan Pemberdayaan
dan Keterampilan
+ Muatan Lokal
(Kelas I – II)(Kelas III– IV)
(Kelas V –
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Muatan pemberdayaan dan/atau
muatan keterampilan dilaksanakan pada Satuan Pendidikan
sebagai Kokurikuler.
c) Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit
Kompetensi (SKK) tiap Fase.
Tabel 28. Struktur Kurikulum
Program Paket B
|
Mata
Pelajaran/Muatan Pemberdayaan
dan Keterampilan |
Bobot Satuan
Kredit Kompetensi |
Total SKK |
|
Fase D (Kelas
VII – IX) |
||
|
Mata
Pelajaran dan/atau Muatan Wajib |
||
|
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekertia) |
84 |
84 |
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
||
|
Pendidikan
Pancasila |
||
|
Bahasa
Indonesia |
||
|
Matematika |
||
|
Ilmu
Pengetahuan Alam |
||
|
Ilmu
Pengetahuan Sosial |
||
|
Bahasa
Inggris |
||
|
PJOK |
||
|
Seni
dan Budaya |
||
|
Muatan
Pemberdayaan dan Keterampilanb) |
||
|
Pemberdayaan |
29 |
29 |
|
Keterampilan |
||
|
Total
SKK Mata Pelajaran dan/atau Muatan Wajib + Muatan Pemberdayaan dan
Keterampilan |
113 |
113 |
|
Muatan Lokalc) |
2 |
2 |
|
Total
SKK Mata Pelajaran dan/atau Muatan Wajib + Muatan Pemberdayaan dan
Keterampilan + Muatan Lokal |
115 |
115 |
Keterangan:
a)
Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing.
b) Muatan
pemberdayaan dan/atau muatan keterampilan dilaksanakan
pada Satuan Pendidikan sebagai
Kokurikuler.
c)
Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit
Kompetensi (SKK) tiap Fase.
Tabel 29. Struktur Kurikulum Program
Paket C
|
Mata
Pelajaran/Muatan |
Satuan Bobot
Kompetensi |
TOTAL |
||
|
Pemberdayaan dan |
Fase E |
Fase F |
SKK |
|
|
Keterampilan |
Kelas X |
Kelas XI – XII |
|
|
|
Mata
Pelajaran Wajib |
||||
|
Pendidikan
Agama Islam dan |
32 |
32 |
64 |
|
|
Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Agama Katolik dan Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Agama Buddha dan Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Agama Khonghucu dan Budi Pekertia) |
||||
|
Pendidikan
Pancasila |
||||
|
Bahasa
Indonesia |
||||
|
Matematika |
||||
|
Bahasa Inggris |
||||
|
Ilmu
Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia)b) |
||||
|
Ilmu
Pengetahuan Sosial (Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi)b) |
||||
|
Sejarahc) |
||||
|
PJOK |
||||
|
Seni dan Budaya |
||||
|
Mata
Pelajaran Pilihan |
||||
|
Antropologi |
- |
40 |
40 |
|
|
Bahasa Arab |
||||
|
Bahasa
Indonesia Tingkat Lanjut |
||||
|
Bahasa Inggris
Tingkat Lanjut |
||||
|
Bahasa Jepang |
||||
|
Bahasa Jerman |
||||
|
Bahasa Korea |
||||
|
Bahasa Mandarin |
||||
|
Bahasa Prancis |
||||
|
Mata
Pelajaran/Muatan |
Satuan Bobot
Kompetensi |
TOTAL |
|
|
Pemberdayaan dan |
Fase E |
Fase F |
SKK |
|
Keterampilan |
Kelas X |
Kelas XI – XII |
|
|
Biologi |
|
|
|
|
Ekonomi |
|
|
|
|
Fisika |
|
|
|
|
Geografi |
|
|
|
|
Informatika |
|
|
|
|
Kimia |
|
|
|
|
Matematika
Tingkat Lanjut |
|
|
|
|
Sejarah Tingkat
Lanjut |
|
|
|
|
Sosiologi |
|
|
|
|
Total SKK Mata
Pelajaran Wajib + Mata
Pelajaran Pilihan |
32 |
72 |
104 |
|
Muatan
Pemberdayaan dan Keterampiland) |
|||
|
Pemberdayaan |
12 |
12 |
24 |
|
Keterampilan |
|||
|
Total
SKK Kelompok Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan
Pemberdayaan dan Keterampilan |
44 |
84 |
128 |
|
Muatan Lokale) |
2 |
2 |
4 |
|
Total SKK
Kelompok Mata |
46 |
86 |
132 |
|
Pelajaran Wajib
+ Mata Pelajaran |
|||
|
Pilihan +
Muatan Pemberdayaan |
|||
|
dan
Keterampilan + Muatan |
|||
|
Lokal |
|||
Keterangan:
a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai
dengan agama masing-masing. b) Diberikan
pada kelas X (Fase E).
c) Diberikan pada kelas XI dan XII (Fase
F).
d)
Muatan
pemberdayaan dan/atau muatan keterampilan dilaksanakan
pada Satuan Pendidikan sebagai
Kokurikuler.
e) Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit
Kompetensi (SKK) tiap Fase.
Berikut merupakan
penjelasan dari struktur Kurikulum pendidikan kesetaraan (Program Paket A,
Program Paket B, dan Program Paket C) secara umum.
1. Intrakurikuler dilaksanakan dengan
mengacu pada Capaian Pembelajaran mata pelajaran
wajib dan mata pelajaran pilihan sesuai dengan jenjang pada jalur pendidikan
formal.
2. Mata pelajaran
wajib merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan untuk semua Peserta Didik.
3. Mata
pelajaran pilihan merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh
Peserta
Didik sesuai dengan minat dan bakatnya.
4. Ketentuan
mengenai
mata
pelajaran
pilihan
disesuaikan
dengan
sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat.
5. Muatan pelajaran
kepercayaan untuk penganut
kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Muatan lokal merupakan muatan pembelajaran tentang
potensi dan keunikan lokal
berupa:
a. seni budaya;
b.
prakarya;
c.
pendidikan jasmani, olahraga, dan
kesehatan;
d. bahasa; dan/atau
e.
teknologi.
7.
Muatan lokal dapat dilaksanakan pada
Satuan Pendidikan melalui:
a. pengintegrasian ke dalam mata pelajaran
lain;
b. pengintegrasian ke
dalam
muatan
pemberdayaan dan keterampilan berbasis profil
lulusan; dan/atau
c. mata pelajaran yang berdiri sendiri.
MENTERI
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
Salinan sesuai
dengan aslinya. Kepala Biro
Hukum
Kementerian
Pendidikan
Dasar
dan Menengah
ttd.
Muhammad Ravii
NIP
197203232005011001
ABDUL MU’TI
SALINAN LAMPIRAN
III
PERATURAN MENTERI DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG
KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG
PENDIDIKAN MENENGAH
PENGEMBANGAN
EKSTRAKURIKULER A. Komponen
1.
Visi dan Misi
Visi
Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan adalah berkembangnya potensi, bakat,
minat, kemampuan, kepribadian, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal
melalui kegiatan-kegiatan di luar Intrakurikuler.
Misi Ekstrakurikuler pada Satuan
Pendidikan sebagai berikut:
a. menyediakan sejumlah
kegiatan yang dapat dipilih dan diikuti
sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat Peserta Didik; dan
b.
menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang
memberikan
kesempatan
kepada Peserta Didik untuk dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri
secara optimal melalui kegiatan mandiri dan/atau berkelompok.
2.
Fungsi dan Tujuan
Fungsi
Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan sebagai berikut.
a.
Fungsi
pengembangan, yakni bahwa Ekstrakurikuler berfungsi
untuk
mendukung perkembangan Peserta Didik melalui perluasan minat, pengembangan
potensi dan bakat, serta pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan
pelatihan kepemimpinan.
b. Fungsi
sosial,
yakni
bahwa
Ekstrakurikuler
berfungsi
untuk
mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial Peserta Didik.
Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada Peserta
Didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktik keterampilan sosial, dan
internalisasi nilai moral serta nilai sosial.
c. Fungsi rekreatif, yakni bahwa Ekstrakurikuler dilakukan dalam
suasana rileks dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan Peserta
Didik. Ekstrakurikuler harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah
lebih menantang dan lebih menarik bagi Peserta Didik.
d.
Fungsi
persiapan karier, yakni bahwa Ekstrakurikuler berfungsi
untuk
mengembangkan kesiapan karir Peserta Didik melalui pengembangan kapasitas.
Tujuan pelaksanaan Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan sebagai
berikut.
a. Ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan kognitif,
afektif, dan psikomotor Peserta Didik.
b. Ekstrakurikuler harus dapat mengembangkan bakat, minat, dan potensi serta karakter Peserta Didik
dalam upaya pembinaan pribadi menuju manusia seutuhnya.
B.
Jenis dan Format Kegiatan
Jenis Ekstrakurikuler sebagai
berikut:
1. krida,
misalnya:
Kepramukaan
atau
Kepanduan
lainnya,
Latihan
Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya;
2. karya ilmiah, misalnya: Kegiatan
Ilmiah
Remaja
(KIR),
kegiatan
penguasaan
keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya;
3. latihan olah-bakat atau latihan
olah-minat, misalnya: pengembangan
bakat
olahraga, seni dan budaya, pecinta
alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan
lainnya;
4. keagamaan, misalnya: pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis
Al-Quran,
retret, Sekolah Injil Liburan, Pendalaman Alkitab; atau
5.
bentuk kegiatan lainnya.
Ekstrakurikuler
dapat
diselenggarakan
dalam
berbagai
format
sebagai
berikut.
1. Individual, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh Peserta Didik secara
perorangan.
2. Kelompok, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang
diikuti
oleh kelompok-kelompok Peserta Didik.
3. Klasikal,
yakni Ekstrakurikuler dapat
dilakukan dalam format
yang diikuti oleh Peserta Didik dalam 1 (satu) rombongan belajar.
4. Gabungan, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh Peserta Didik antar
rombongan belajar.
5. Lapangan, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang
diikuti
oleh seorang atau sejumlah Peserta Didik melalui kegiatan di luar sekolah atau
kegiatan lapangan.
C.
Prinsip Pengembangan
Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan dikembangkan dengan prinsip sebagai berikut.
1. Bersifat individual, yakni
bahwa
Ekstrakurikuler
dikembangkan
sesuai dengan
potensi, bakat, dan minat Peserta
Didik masing-masing.
2. Bersifat pilihan, yakni bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan sesuai
dengan minat dan diikuti oleh Peserta Didik secara sukarela.
3. Keterlibatan aktif,
yakni
bahwa
Ekstrakurikuler menuntut keikutsertaan Peserta Didik
secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing.
4. Menyenangkan,
yakni
bahwa
Ekstrakurikuler
dilaksanakan
dalam
suasana yang menggembirakan bagi Peserta Didik.
5. Membangun etos kerja, yakni
bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan prinsip
membangun semangat Peserta
Didik untuk berusaha dan bekerja dengan baik dan giat.
6. Kemanfaatan sosial,
yakni bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan dan
dilaksanakan dengan memperhatikan dampak positifnya bagi masyarakat.
D.
Mekanisme
1.
Pengembangan
Ekstrakurikuler
diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan bagi Peserta Didik sesuai potensi,
bakat, dan minat Peserta Didik. Pengembangan Ekstrakurikuler di Satuan
Pendidikan
dapat
dilakukan
melalui
tahapan:
(1) analisis sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan Ekstrakurikuler;
(2) identifikasi kebutuhan, potensi, bakat,
dan minat Peserta
Didik; (3) menetapkan bentuk kegiatan yang diselenggarakan, kompetensi, muatan
pembelajaran, beban belajar, dan indikator ketercapaiannya; (4) mengupayakan sumber daya sesuai pilihan Peserta Didik atau
menyalurkannya ke Satuan Pendidikan atau lembaga lainnya; dan (5) menyusun
Program Ekstrakurikuler.
Satuan Pendidikan menyusun program
Ekstrakurikuler yang merupakan bagian
dari
Rencana Kerja
Sekolah. Program Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan
yang dikembangkan dengan menggunakan sumber daya bersama difasilitasi penggunaannya oleh Yayasan,
Pemerintah, atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. Program Ekstrakurikuler disosialisasikan kepada Peserta Didik dan orangtua/wali
pada setiap awal tahun pelajaran. Sistematika Program Ekstrakurikuler paling
sedikit memuat:
a. rasional dan tujuan umum;
b. deskripsi setiap Ekstrakurikuler;
c. pengelolaan;
d.
pendanaan; dan
e. evaluasi.
2. Pelaksanaan
Penjadwalan Ekstrakurikuler dirancang di awal tahun ajaran oleh
pembina
Ekstrakurikuler di bawah supervisi kepala sekolah/ madrasah atau wakil kepala
sekolah/madrasah. Jadwal Ekstrakurikuler diatur agar tidak menghambat
pelaksanaan Intrakurikuler dan Kokurikuler.
3. Penilaian atau Asesmen
Kinerja Peserta Didik dalam
Ekstrakurikuler perlu mendapat
Penilaian
atau asesmen
dan dideskripsikan dalam laporan hasil belajar. Kriteria keberhasilannya meliputi
proses dan hasil
capaian kompetensi Peserta Didik dalam Ekstrakurikuler yang
dipilihnya. Penilaian atau asesmen dilakukan secara kualitatif.
E.
Evaluasi
Evaluasi Ekstrakurikuler dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan
pada
setiap indikator yang telah ditetapkan dalam rencana pengembangan
Ekstrakurikuler oleh Satuan Pendidikan. Satuan Pendidikan hendaknya
mengevaluasi setiap indikator yang sudah tercapai maupun yang belum tercapai.
Berdasarkan hasil evaluasi, Satuan Pendidikan dapat melakukan tindak lanjut
berupa perbaikan pada perencanaan siklus kegiatan berikutnya.
F.
Daya Dukung
Daya
dukung pengembangan dan pelaksanaan Ekstrakurikuler meliputi:
1.
Kebijakan Satuan Pendidikan
Pengembangan
dan pelaksanaan Ekstrakurikuler merupakan kewenangan dan tanggung jawab penuh
dari Satuan Pendidikan. Satuan Pendidikan menetapkan kebijakan pengembangan dan
pelaksanaan Ekstrakurikuler melalui
rapat Satuan Pendidikan dengan melibatkan komite sekolah/madrasah.
2.
Ketersediaan Pembina Ekstrakurikuler
Pelaksanaan
Ekstrakurikuler harus didukung dengan ketersediaan pembina Ekstrakurikuler.
Satuan Pendidikan dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan
pembina Ekstrakurikuler.
3. Ketersediaan Sarana dan Prasarana
Satuan Pendidikan
Pelaksanaan Ekstrakurikuler memerlukan dukungan berupa
ketersediaan
sarana dan prasarana di Satuan Pendidikan. Sarana di Satuan Pendidikan mencakup
segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural yang diperlukan untuk mewujudkan
proses pendidikan. Prasarana di Satuan Pendidikan mencakup
lahan, gedung/bangunan,
prasarana olahraga, prasarana kesenian, dan prasarana lainnya.
G. Pihak Yang Terlibat
Pihak-pihak yang terlibat dalam
pengembangan Ekstrakurikuler antara lain:
1.
Satuan Pendidikan
Kepala
sekolah/madrasah, pendidik, tenaga kependidikan, dan pembina Ekstrakurikuler
bersama-sama mewujudkan keunggulan dalam ragam Ekstrakurikuler sesuai dengan
sumber daya yang dimiliki oleh Satuan Pendidikan.
2. Komite Sekolah/Madrasah
Sebagai mitra
sekolah, komite
sekolah/madrasah memberikan
dukungan, saran, dan kontrol dalam mewujudkan
keunggulan ragam
Ekstrakurikuler.
3. Orang tua
Memberikan
kepedulian, komitmen, dan berperan secara aktif terhadap keberhasilan
Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan.
MENTERI
PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
ABDUL MU’TI
Salinan sesuai
dengan aslinya. Kepala Biro Hukum
Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah
ttd.
NIP 197203232005011001


Komentar
Posting Komentar