PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NOMOR 13 TAHUN 2025

 

SALINAN

 

 MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 13 TAHUN 2025

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,

RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH

TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA,

 

 

Menimbang    :

a.

bahwa untuk membangun manusia yang beriman dan

 

 

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

 

 

dan berkarakter Pancasila, diselenggarakan pendidikan

 

 

bermutu untuk semua;

 

b.

bahwa dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk

 

 

semua sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diperlukan

 

 

penyesuaian  kurikulum  dan  pendekatan  pembelajaran

yang   mampu   beradaptasi   dengan   kemajuan   ilmu

pengetahuan dan teknologi, perkembangan global, dan

keragaman sosial dan budaya;

c.    bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 37 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun

2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, menteri yang

menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan berwenang untuk menetapkan kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah;

d.    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah;


 

 

Mengingat      :

1.

Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik

 

 

Indonesia Tahun 1945;

 

2.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan    Nasional    (Lembaran    Negara    Republik

Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

3.    Undang-Undang    Nomor    39    Tahun    2008    tentang

Kementerian  Negara  (Lembaran  Negara  Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun

2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 39

Tahun  2008  tentang  Kementerian  Negara  (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 225, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

6994);

4.    Peraturan  Pemerintah  Nomor  57  Tahun  2021  tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6676) sebagaimana telah  diubah  dengan  Peraturan  Pemerintah  Nomor  4

Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6762);

5.    Peraturan  Presiden  Nomor  188  Tahun  2024  tentang Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 385);

6.    Peraturan  Menteri  Pendidikan  Dasar  dan  Menengah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 1050);

 

MEMUTUSKAN:

 

Menetapkan  :  PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TENTANG               PERUBAHAN    ATAS    PERATURAN    MENTERI PENDIDIKAN,    KEBUDAYAAN,   RISET,   DAN   TEKNOLOGI NOMOR               12  TAHUN  2024  TENTANG  KURIKULUM  PADA PENDIDIKAN   ANAK   USIA   DINI,   JENJANG   PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH.

 

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2024 Nomor 172) diubah sebagai berikut:

 

1.    Ketentuan  ayat  (2)  Pasal  3  diubah  sehingga  berbunyi sebagai berikut:

Pasal 3

(1)   Kerangka dasar Kurikulum sebagaimana dimaksud

dalam   Pasal   2   huruf   a   merupakan   rancangan


 

landasan   utama   dalam   pengembangan   struktur

Kurikulum.

(2)   Kerangka dasar Kurikulum sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) memuat:

a.    tujuan;

b.    prinsip;

c.    landasan filosofis;

d.    landasan sosiologis;

e.    landasan psikopedagogis; dan

f.     pendekatan pembelajaran mendalam.

 

 

2.    Ketentuan  Pasal  6  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 6

Struktur Kurikulum terdiri atas:

a.    struktur Kurikulum pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat;

b.    struktur   Kurikulum   sekolah   dasar,   madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat;

c.    struktur  Kurikulum  sekolah  menengah  pertama,

madrasah   tsanawiyah,   atau   bentuk   lain   yang sederajat;

d.    struktur    Kurikulum    sekolah    menengah    atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat;

e.    struktur  Kurikulum  sekolah  menengah  kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan;

f.     struktur Kurikulum sekolah dasar luar biasa dan

madrasah ibtidaiyah luar biasa;

g.    struktur Kurikulum sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah tsanawiyah luar biasa;

h.    struktur  Kurikulum  sekolah  menengah  atas  luar biasa dan madrasah aliyah luar biasa; dan

i.     struktur        Kurikulum        Satuan       Pendidikan

penyelenggara pendidikan kesetaraan.

 

3.    Ketentuan  Pasal  16  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 16

(1)   Kokurikuler sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7

ayat (1) huruf b memuat:

a.    kompetensi;

b.    muatan pembelajaran; dan

c.    beban belajar.

(2)   Kokurikuler  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak Indonesia hebat, dan/atau cara lainnya.

(3)   Kokurikuler  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)

pada  pendidikan  kesetaraan  dilaksanakan  paling sedikit melalui pemberdayaan dan keterampilan.

(4)   Kokurikuler  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) dikembangkan oleh Satuan Pendidikan mengacu pada panduan  yang  ditetapkan  oleh  pejabat  pimpinan


 

tinggi  madya  yang  melaksanakan  tugas  di  bidang

Kurikulum.

 

4.    Ketentuan  Pasal  17  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 17

(1)   Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a dirumuskan untuk memperkuat:

a.    keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang

Maha Esa;

b.    kewargaan;

c.    penalaran kritis;

d.    kreativitas;

e.    kolaborasi;

f.     kemandirian;

g.    kesehatan; dan h.    komunikasi.

(2)   Alur    perkembangan    kompetensi    sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pejabat pimpinan tinggi madya yang melaksanakan tugas di bidang Kurikulum.

 

5.    Ketentuan  Pasal  18  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 18

(1)   Muatan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 16 ayat (1) huruf b berupa tema.

(2)   Tema    sebagaimana    dimaksud    pada    ayat    (1) digunakan untuk merumuskan topik yang relevan dengan konteks sosial budaya dan karakteristik Peserta Didik.

(3)   Tema    sebagaimana    dimaksud    pada    ayat    (1)

dikembangkan oleh Satuan Pendidikan.

 

6.    Ketentuan  Pasal  19  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 19

Beban belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf c pada Kokurikuler dirumuskan dalam bentuk alokasi waktu 1 (satu) tahun ajaran.

 

7.    Ketentuan  Pasal  22  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 22

(1)   Satuan Pendidikan pada jenjang pendidikan dasar

dan pendidikan menengah jalur formal menyelenggarakan layanan Ekstrakurikuler.

(2)   Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat

(1)         sekurang-kurangnya menyediakan Ekstrakurikuler kepramukaan atau kepanduan lainnya.

(3)   Satuan Pendidikan pada pendidikan anak usia dini

dan  Satuan  Pendidikan  penyelenggara  pendidikan


kesetaraan     dapat     menyelenggarakan     layanan

Ekstrakurikuler.

 

8.    Ketentuan  Pasal  32  diubah  sehingga  berbunyi  sebagai berikut:

Pasal 32

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:

a.    Satuan  Pendidikan  yang  menggunakan  struktur

Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a dan huruf i dapat menerapkan Kurikulum sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri ini secara bertahap atau secara serentak;

b.    Satuan  Pendidikan  yang  menggunakan  struktur Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, huruf c, huruf f, dan huruf g dapat menerapkan   Kurikulum   sebagaimana   tercantum pada Peraturan Menteri ini   secara bertahap mulai dari kelas I, kelas IV, dan kelas VII atau secara serentak pada seluruh kelas; dan

c.    Satuan  Pendidikan  yang  menggunakan  struktur Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf d, huruf e, dan huruf h dapat menerapkan Kurikulum sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri ini secara bertahap mulai dari kelas X.

 

 

9.    Di antara Pasal 32 dan Pasal 33 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 32A sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 32A

Pada  saat  Peraturan  Menteri  ini  mulai  berlaku,  mata

pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial diselenggarakan Satuan Pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah mulai tahun ajaran 2025-2026 secara bertahap.

 

 

10. Ketentuan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I, Lampiran  II,   dan   Lampiran   III   Peraturan   Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12

Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak

Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah diubah, sehingga menjadi sebagaimana tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

 

Pasal II

Peraturan    Menteri    ini    mulai    berlaku    pada    tanggal diundangkan.


 

 

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

 

 

 

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11 Juli 2025

 

MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA, ttd.

ABDUL MU’TI

 

Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Juli 2025

 

DIREKTUR JENDERAL

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,

 

ttd.

 DHAHANA PUTRA

 

 

 

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR 503

 

 

Salinan sesuai dengan aslinya. Kepala Biro Hukum

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

 

ttd.

 

Muhammad Ravii

NIP 197203232005011001


SALINAN LAMPIRAN I

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN

MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH

KERANGKA DASAR KURIKULUM A.    Tujuan

Kurikulum memiliki tujuan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi serta menumbuhkembangkan cipta, rasa, dan karsa Peserta Didik sebagai pelajar sepanjang hayat yang berkarakter Pancasila melalui pembelajaran mendalam.

 

B.    Prinsip

Kurikulum dirancang dengan prinsip:

1.    pengembangan karakter, yaitu pengembangan kompetensi spiritual, moral, sosial, dan emosional Peserta Didik yang terintegrasi dalam intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta melalui pembiasaan dalam budaya sekolah;

2.    fleksibel, yaitu dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi Peserta Didik, karakteristik Satuan Pendidikan, dan konteks lingkungan sosial budaya setempat; dan

3.    berfokus pada muatan esensial, yaitu berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan karakter Peserta Didik agar proses pembelajaran dapat dikelola secara optimal untuk pembelajaran mendalam.

 

C.    Landasan Filosofis

Filosofi pendidikan memiliki peran fundamental dalam membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh. Filosofi ini menjadi landasan yang mengarahkan tujuan dan proses pendidikan agar senantiasa relevan dengan konteks sosial, budaya, dan tantangan zaman. Sebagaimana ditegaskan oleh John Dewey, pendidikan bukanlah sekadar persiapan untuk hidup di masa mendatang, namun juga merupakan kehidupan itu sendiri. Hal ini berarti pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga alat untuk membangun masyarakat ideal yang mencerminkan nilai-nilai universal seperti kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan, dengan mengintegrasikannya ke dalam pengalaman hidup peserta didik.

 

Para filsuf ternama seperti Dewey, Ausubel, Ornstein dan Hunkins, dan Ralph Tyler, menekankan pentingnya filosofi pendidikan dalam menciptakan sistem yang visioner dan dinamis. Filosofi ini merefleksikan cita-cita manusia dalam membangun masyarakat inklusif dan progresif. Dengan   demikian,   pendidikan   tidak   hanya   menjadi   sarana   untuk


 

 

memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial yang memungkinkan manusia terus berkembang seiring perubahan zaman.

 

Pendidikan yang ideal tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memerdekakan, membentuk karakter, dan memberdayakan manusia untuk berkontribusi positif kepada masyarakat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemandirian peserta didik, didukung oleh sistem among yang mencakup nilai asah, asih, asuh. Dalam pandangannya, pendidikan harus berakar pada budaya bangsa, berfungsi sebagai pranata sosial yang melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sebagaimana tercermin dalam konsep "Taman Siswa." Filosofi ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, yang melihat pendidikan  sebagai  alat  perubahan  sosial. Baginya, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia berintegritas yang berperan aktif dalam menciptakan masyarakat berkemajuan dengan prinsip berbuat untuk kebaikan bersama tanpa memperalat orang lain.

 

Selanjutnya K.H. Ahmad Dahlan menekankan tujuh prinsip filosofis yang perlu menjadi landasan dalam proses pendidikan, yaitu (1) berasaskan pada tujuan hidup; (2) tidak sombong, tidak takabur; (3) kegigihan belajar untuk ketuntasan kinerja; (4) mengoptimalkan penggunaan akal untuk menemukan kebenaran sejati; (5) berani menegakkan kebenaran; (6) berbuat untuk kebaikan sesama, bukan untuk memperalat mereka; dan (7) pengamalan ilmu agama dengan tingkat kualitas tinggi untuk kemanfaatan bersama. Dengan demikian K.H. Ahmad Dahlan juga menegaskan pentingnya pendidikan sebagai alat perubahan sosial dan pendidikan harus melahirkan manusia yang berperan aktif untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan.

 

Lebih jauh, pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan kolektif dan individu dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan sosial secara holistik. K.H. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa tujuan pendidikan  adalah  membentuk  manusia yang beriman, bertakwa, dan sejahtera melalui pendekatan yang inklusif, bermutu, dan relevan. Nilai- nilai mabadi khaira ummah seperti integritas, etos kerja, dan keadilan menjadi landasan penting dalam pembelajaran yang moderat dan adaptif. Pandangan ini bersinergi dengan gagasan Ki Bagus Hadikusumo, yang percaya bahwa pendidikan harus mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan melakukan analisis dan sintesis, sehingga peserta didik mampu memahami dan menghadapi tantangan yang kompleks.

 

Pendidikan juga harus bersifat transformatif, bermakna, dan berpihak kepada kelompok termarjinalkan. Romo Y.B. Mangunwijaya mengemukakan bahwa pendidikan harus menjadi jalan pembebasan melalui dialog lintas budaya dan pemahaman kontekstual. Dalam pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga aktor perubahan sosial yang aktif dalam menyelesaikan masalah nyata melalui refleksi dan kolaborasi. Prinsip ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan yang menekankan bahwa pendidikan harus relevan dengan kehidupan sosial, membangun masyarakat yang adil, dinamis, dan berbasis nilai.


 

 

Semangat saling memuliakan dalam lingkungan pendidikan, sebagaimana diajarkan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, berpusat pada penghormatan mendalam terhadap tiga elemen penting: guru, teman sejawat, dan sumber ilmu. Menghormati guru berarti mengakui peran mereka sebagai pendidik dan teladan, dengan mendengarkan, mematuhi, dan bersikap sopan. Menghormati teman sejawat menciptakan lingkungan yang kolaboratif, di mana semua pihak saling mendukung dan berbagi ilmu tanpa iri hati. Sementara itu, menghormati sumber ilmu mengajarkan pentingnya menjaga kesucian ilmu dengan memanfaatkannya untuk tujuan mulia dan tetap rendah hati dalam pencapaian intelektual sangat dianjurkan oleh KH. Ahmad Dahlan. K.H. Ahmad Dahlan juga mengajarkan bahwa pendidikan yang memuliakan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran sosial dan menumbuhkan semangat melayani sesama sebagai bentuk ibadah. Romo Y.B. Mangunwijaya menambahkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia, terutama kaum yang terpinggirkan, menjadikan pendidikan sarana pembebasan dan pemberdayaan. Senada dengan itu, Ki Bagus Hadikusumo menekankan pentingnya membangun integritas moral yang kokoh sebagai pondasi utama dalam memuliakan kehidupan bersama. Dengan fondasi ini, pendidikan tidak hanya menjadi wadah pembelajaran yang efektif tetapi juga membentuk karakter yang kuat, menumbuhkan nilai-nilai spiritual, serta menciptakan harmoni antara aspek intelektual, moral, dan spiritual dalam proses pendidikan.

 

Selain tokoh-tokoh yang telah disebutkan, berbagai tokoh nasional dari beragam latar belakang dan disiplin ilmu turut menyumbangkan pandangan filosofis yang mendalam mengenai pendidikan. Mereka menekankan pentingnya pembentukan karakter, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, dan pemberian manfaat bagi masyarakat. Meskipun setiap tokoh memiliki penekanan yang berbeda-beda, kontribusi mereka berperan dalam membangun pendidikan Indonesia yang beradab, berkeadilan, dan relevan dengan tuntutan zaman.

 

Selanjutnya Syaikh Az-Zarnuji dalam Ta'līm al-Muta'allim menekankan pentingnya adab dan metode belajar yang efektif dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat. Salah satu konsep utama yang relevan dengan pembelajaran mendalam adalah urgensi kesungguhan dan niat yang ikhlas dalam belajar sehingga peserta didik mendapat kemanfaatannya. Pembelajaran juga terkait erat dengan adab memuliakan, yang mencakup penghormatan terhadap ilmu dan guru. Dalam proses ini, peserta didik dan guru saling memuliakan dalam berinteraksi. Prinsip ini sejalan dengan salah satu dari empat kerangka pembelajaran mendalam, yaitu lingkungan pembelajaran, yang menekankan pentingnya budaya belajar yang positif. Selain kesungguhan dalam belajar, interaksi yang baik dengan ilmu, guru, dan sesama peserta didik menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

Az-Zarnuji juga menyoroti pentingnya strategi belajar yang sistematis, seperti memahami makna sebelum menghafal, serta mengulang dan mendiskusikan pelajaran. Dalam konteks pembelajaran mendalam, strategi ini mencerminkan pendekatan berbasis inkuiri dan kolaborasi, di mana peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga secara aktif membangun pemahaman melalui eksplorasi, diskusi, dan refleksi mendalam. Konsep kesadaran dalam belajar yang dibahas Syaikh Az-Zarnuji juga relevan dengan prinsip pembelajaran mendalam yang berorientasi pada pembelajaran berkesadaran. Peserta didik didorong untuk  memiliki  kesadaran  dan  motivasi  belajar,  mempersiapkan  diri


 

 

sebelum belajar, serta memahami pengalaman belajar yang diberikan oleh guru. Selain itu, pengalaman belajar yang menekankan pemahaman dan pengamalan, selaras dengan tahapan dalam pembelajaran mendalam, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pembelajaran bukan hanya sekadar menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu agar menjadi bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Secara keseluruhan, pandangan-pandangan ini saling melengkapi untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada kecakapan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pemberdayaan manusia. Dengan integrasi pemikiran ini, pendidikan menjadi fondasi untuk mewujudkan generasi yang tidak hanya terampil secara akademis, tetapi juga memiliki integritas moral, empati sosial, dan spiritualitas yang kokoh. Sistem pendidikan seperti ini tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga memberi arah yang jelas dalam menghadapi tantangan global di masa depan.

 

Pembelajaran Mendalam sejalan dengan pemikiran para filsuf pendidikan, karena pembelajaran mendalam menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pembelajaran, dengan menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini semakin relevan dalam menghadapi dunia yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian, dengan cara mengintegrasikan olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Pembelajaran Mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan empati, sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang utuh dan selaras dengan tuntutan global.

 

Pembelajaran mendalam menekankan bahwa pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penciptaan suasana yang memuliakan peserta didik. Filosofi ini berlandaskan pandangan pendidikan holistik yang mengedepankan keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik. Melalui pembelajaran berkesadaran, peserta didik diajak untuk hadir secara penuh dalam setiap aktivitas belajar. Pendekatan ini menegaskan pentingnya sinkronisasi antara pikiran, perasaan, dan tindakan, sebagaimana diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui sistem among yang berbasis nilai asah, asih, dan asuh. Dengan kesadaran penuh, peserta didik diajak memahami bahwa belajar adalah proses refleksi mendalam yang melibatkan penerimaan terhadap keragaman perspektif dan komitmen untuk terus berkembang.

 

Pembelajaran bermakna dalam pembelajaran mendalam memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dengan kehidupan nyata peserta didik. Dengan menghubungkan pembelajaran pada konteks budaya, sosial, dan tantangan sehari-hari, pembelajaran mendalam memotivasi peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, dan sintesis dalam memecahkan masalah kompleks. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan K.H. Ahmad Dahlan yang memandang pendidikan sebagai alat perubahan sosial yang membangkitkan kesadaran kolektif. Dengan pembelajaran bermakna, peserta didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan praktis, tetapi juga membangun wawasan untuk berkontribusi secara positif terhadap masyarakat.

 

Suasana belajar yang menggembirakan merupakan prinsip utama pembelajaran mendalam, di mana pembelajaran dirancang agar bebas dari


 

 

tekanan yang berlebihan dan penuh dengan antusiasme. Filosofi ini menggemakan prinsip Taman Siswa yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara, di mana kebebasan berekspresi, kenyamanan, dan motivasi intrinsik peserta didik dipupuk. Dalam suasana belajar yang menggembirakan ini, peserta didik termotivasi untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan semangat dan keinginan mendalam, karena dilandasi oleh keamanan psikologis yang membebaskan mereka dari rasa takut dan memungkinkan mereka untuk berekspresi, berpikir kritis, dan berkreasi tanpa hambatan.

 

Dimensi olah pikir dalam pembelajaran mendalam berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual peserta didik melalui eksplorasi, eksperimen, dan inovasi. Pendekatan ini menekankan integrasi antara teori dan praktik untuk memotivasi pola pikir adaptif dan solusi kreatif. Dimensi olah hati dan olah rasa memperkuat nilai-nilai moral, etika, dan estetika, membentuk peserta didik yang berintegritas, berempati, dan berkomitmen terhadap keadilan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dan Romo Y.B. Mangunwijaya yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis moralitas dan penghormatan terhadap martabat manusia.

 

Dimensi olahraga melengkapi pembelajaran mendalam dengan mengedepankan keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Melalui aktivitas fisik yang terintegrasi dalam pembelajaran, peserta didik diajak untuk menjaga kesehatan tubuh sebagai fondasi dari keberhasilan akademik dan kehidupan. Pendekatan ini menanamkan nilai disiplin, ketekunan, dan daya tahan, sekaligus menyadarkan peserta didik bahwa tubuh yang sehat mendukung pikiran yang tajam dan hati yang tenang.

 

Pembelajaran mendalam juga menumbuhkan semangat saling memuliakan di lingkungan pendidikan, dengan menempatkan penghormatan sebagai inti dari proses pembelajaran. Sebagaimana diajarkan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, lingkungan pendidikan yang baik harus mencerminkan penghormatan terhadap guru, teman sejawat, dan sumber ilmu. Guru dihormati sebagai pembimbing penuh kasih sayang, teman sejawat dihargai dalam semangat kolaborasi, dan sumber ilmu dirawat dengan sikap rendah hati. Melalui sistem among, yang mencakup nilai asah, asih, dan asuh, pembelajaran mendalam menciptakan harmoni yang mendukung peserta didik untuk berkembang secara alami tanpa tekanan yang mengekang.

 

Dengan  mengintegrasikan  semua  dimensi ini, pembelajaran mendalam menciptakan pengalaman pendidikan yang menyeluruh dan relevan dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Filosofi ini tidak hanya membentuk peserta didik yang cerdas, tetapi juga bermartabat, mandiri, dan berempati, siap menghadapi tantangan global dengan percaya diri dan kesadaran penuh.

 

D.   Landasan Sosiologis

 

Secara sosiologis, hakikat pendidikan yang dimanifestasikan dalam proses pembelajaran sangat berkaitan erat dengan kepentingan nasional, terutama keberadaan dan kondisi bangsa yang majemuk terdiri atas berbagai suku, ras, budaya, dan bahasa, yang perlu dibangun menjadi bangsa yang maju dan berjati diri. Rumusan mencerdaskan kehidupan bangsa bermakna filosofis mendalam dan merupakan tujuan ke-3 dari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Para pendiri bangsa mengamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 bahwa bangsa


 

 

Indonesia harus membangun kehidupan yang cerdas dan sempurna dalam menggunakan akal budinya di berbagai aspek kehidupan. Di samping itu, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya berarti cerdas sumber daya manusianya, melainkan seluruh aspek kehidupan bangsa baik menyangkut aspek budaya, sistem, dan lingkungan dalam cakupan yang luas yang menggambarkan kehidupan kebangsaan.

 

Pembelajaran mendalam sebagai fondasi dari seluruh proses pembelajaran dalam sistem pendidikan nasional merupakan sarana untuk mewujudkan amanat konstitusi untuk membangun kehidupan bangsa yang cerdas seperti diuraikan di atas. Dalam perspektif ini, pembelajaran mendalam akan  menjiwai  seluruh  ekosistem  sebagai kesatuan sistem pendidikan nasional secara utuh. Sebagai fondasi ekosistem pendidikan, hakikat pembelajaran mendalam akan mewujud dalam fungsi dan peran semua komponen mulai dari sistem terkecil di kelas sampai sistem terbesar.

 

Aspek sosiologis dari pendidikan yang holistik pun selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pembelajaran mendalam menjadi fondasi utama untuk pengembangan kesadaran diri secara spiritual, sosial, bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan, dan menggembirakan secara lahir batin.

 

E.    Landasan Psikopedagogis

Landasan psikopedagogis merupakan landasan yang memberikan dasar

Kurikulum terkait proses manusia belajar dan berkembang. Penggabungan teori psikologi perkembangan dan pedagogi dimaksudkan untuk memastikan bahwa pengalaman belajar disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas Peserta Didik. Untuk memperhatikan tingkat perkembangan dan kemajuan belajar maka Peserta Didik ditempatkan sebagai pelaku aktif pembelajaran.

 

F. Pendekatan Pembelajaran Mendalam

Pendekatan pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Pendekatan ini mendorong Peserta Didik untuk belajar secara sadar dan penuh perhatian, menikmati proses pembelajaran dengan antusias dan semangat serta menemukan makna dan relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupan mereka. Hal ini memungkinkan Peserta Didik  untuk  terlibat aktif,  menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya, dan membangun pemahaman yang berdampak jangka panjang.

 

Kerangka kerja pembelajaran mendalam terdiri atas empat komponen, yaitu (1) dimensi profil lulusan, (2) prinsip pembelajaran, (3) pengalaman belajar, dan (4) kerangka pembelajaran. Pembelajaran mendalam difokuskan pada pencapaian delapan dimensi profil lulusan yaitu (1) keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) kewargaan, (3) penalaran kritis, (4) kreativitas, (5) kolaborasi, (6) kemandirian, (7) kesehatan,  dan  (8)  komunikasi.  Dimensi  profil  lulusan  merupakan


 

 

kompetensi utuh yang harus dimiliki oleh setiap Peserta Didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dan  pendidikan.

 

Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Di samping itu, delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif. Profil lulusan dicapai melalui prinsip sebagai berikut.

1.    Pembelajaran yang berkesadaran terjadi ketika Peserta Didik menjadi pemelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta Didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Ketika Peserta Didik memiliki kesadaran belajar, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan sebagai pembelajar sepanjang hayat.

2.    Pembelajaran  yang  bermakna  terjadi  ketika  Peserta  Didik  dapat

menerapkan pengetahuannya secara kontekstual. Proses belajar Peserta Didik tidak hanya sebatas memahami informasi/penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan. Kemampuan ini mendukung retensi jangka panjang. Pembelajaran terkoneksi dengan lingkungan Peserta Didik membuat mereka memahami siapa dirinya, bagaimana menempatkan diri, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi kembali. Konsep pembelajaran yang bermakna melibatkan Peserta Didik dengan isu nyata dalam konteks personal, lokal, nasional, global. Pembelajaran harus melibatkan orang tua, masyarakat, atau komunitas sebagai sumber pengetahuan praktis, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial.

3.    Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang

positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu Peserta Didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan. Ketika Peserta Didik menikmati proses belajar, motivasi intrinsik mereka akan tumbuh, mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan keterlibatan aktif. Dengan demikian, pembelajaran membangun pengalaman belajar yang berkesan. Bergembira dalam belajar juga diwujudkan ketika setiap Peserta Didik merasa nyaman, Peserta Didik terpenuhi kebutuhannya seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri.

 

Prinsip tersebut diwujudkan melalui pengalaman belajar Peserta Didik, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Penerapan pembelajaran mendalam didukung dengan praktik pedagogis oleh Pendidik, lingkungan belajar yang memberikan keamanan dan kenyamanan kepada Peserta Didik, pemanfaatan digital serta adanya kemitraan pembelajaran yang optimal.

 

MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA,


 

Salinan sesuai dengan aslinya. Kepala Biro Hukum

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ttd.

Muhammad Ravii

NIP 197203232005011001


ttd. ABDUL MU’TI

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


SALINAN LAMPIRAN II

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN

MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH

 

STRUKTUR KURIKULUM

 

 

A. Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini atau Bentuk Lain yang

Sederajat

Struktur Kurikulum pada pendidikan anak usia dini meliputi Struktur Kurikulum pada taman kanak-kanak, raudhatul athfal, taman kanak- kanak luar biasa, bustanul athfal, kelompok bermain, taman penitipan anak, atau bentuk lain yang sederajat.

 

Struktur Kurikulum pada pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas:

1.    Intrakurikuler

Intrakurikuler dirancang agar Peserta Didik dapat mencapai kemampuan fondasi sebagaimana tertuang dalam Capaian Pembelajaran Fase fondasi. Capaian Pembelajaran Fase fondasi terdiri atas elemen:

a.    nilai agama dan budi pekerti;

b.    jati diri; dan

c.    dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni.

Intrakurikuler dilaksanakan dengan bermain bermakna yaitu aktivitas

bermain yang memberikan ruang bereksplorasi sehingga bermanfaat untuk mengembangkan karakter dan kompetensi Peserta Didik. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan belajar Peserta Didik, yakni proses pembelajaran yang melibatkan dan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Kegiatan dapat menggunakan sumber belajar yang nyata dan ada di lingkungan sekitar Peserta Didik. Sumber belajar yang tidak tersedia secara nyata dapat dihadirkan dengan dukungan teknologi, buku bacaan anak, atau bentuk lainnya.

 

Intrakurikuler pada taman kanak-kanak luar biasa dilaksanakan dengan bermain bermakna yaitu aktivitas bermain yang memberikan ruang bereksplorasi sehingga bermanfaat untuk mengembangkan karakter dan kompetensi Peserta Didik. Di sisi lain, bermain yang dilaksanakan bersifat terapeutik untuk menstimulasi aspek perkembangan yang terhambat.

 

2.    Kokurikuler

Kokurikuler bertujuan untuk memperkuat upaya pencapaian profil

lulusan    yang    mengacu    pada    Standar    Tingkat    Pencapaian


 

 

Perkembangan Anak (STPPA) untuk pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat.

 

3.    Alokasi Waktu Pembelajaran

Alokasi waktu pembelajaran di pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat untuk anak usia 4 (empat) sampai dengan 6 (enam) tahun paling sedikit 900 (sembilan ratus) menit per minggu. Alokasi waktu pembelajaran di pendidikan anak usia dini atau bentuk lain yang sederajat untuk anak usia 3 (tiga) sampai dengan 4 (empat) tahun paling sedikit 360 (tiga ratus enam puluh) menit per minggu. Alokasi waktu pembelajaran untuk taman kanak-kanak luar biasa bersifat fleksibel sehingga Satuan Pendidikan dapat menyesuaikan beban belajar dengan karakteristik, kebutuhan belajar dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain.

 

Pada taman kanak-kanak luar biasa berfokus pada intervensi dini dan penyiapan Peserta Didik untuk dapat mencapai kemampuan fondasi dan melakukan transisi ke jenjang pendidikan selanjutnya baik ke Satuan Pendidikan umum maupun khusus. Program kebutuhan khusus pada taman kanak-kanak luar biasa diberikan sesuai kebutuhan Peserta Didik sejak Fase fondasi berdasarkan hasil asesmen.

 

 

 

B. Struktur Kurikulum Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, atau Bentuk Lain yang Sederajat

 

Struktur Kurikulum sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat sebagai berikut.

 

Tabel 1. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas I

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

144

36

180

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Bahasa Indonesia

252

36

288

Matematika

144

36

180

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

108

 

36

 

144

Seni dan Budayab)

1.  Seni Musik

2.  Seni Rupa

3.  Seni Teater

4.  Seni Tari

 

 

 

108

 

 

 

36

 

 

 

144

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

864

 

216

 

1.080

Muatan Lokalc)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Umum + Muatan Lokal

 

936

 

216

 

1.152

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 2. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas II

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Pancasila

144

36

180

Bahasa Indonesia

288

36

324

Matematika

180

36

216

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

108

 

36

 

144

Seni dan Budayab)

1.  Seni Musik

2.  Seni Rupa

3.  Seni Teater

4.  Seni Tari

 

 

 

108

 

 

 

36

 

 

 

144

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

936

 

216

 

1.152

Muatan Lokalc)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.008

 

216

 

1.224

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

Tabel 3. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas III-IV

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

144

36

180

Bahasa Indonesia

216

36

252

Matematika

180

36

216

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

180

36

216

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

108

36

144

Seni dan Budayab)

1.  Seni Musik

2.  Seni Rupa

3.  Seni Teater

4.  Seni Tari

 

 

 

108

 

 

 

36

 

 

 

144

Bahasa Inggris

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.116

 

252

 

1.368

Muatan Lokalc)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.188

 

252

 

1.440

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

Tabel 4. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas V

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu dan 1 JP = 35 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi

Alokasi

Total JP

Intrakurikuler

Kokurikuler Per

Per Tahun

Per Tahun

Tahun

 

Mata Pelajaran Wajib


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

144

36

180

Bahasa Indonesia

216

36

252

Matematika

180

36

216

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

180

36

216

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

108

36

144

Seni dan Budayab)

1.  Seni Musik

2.  Seni Rupa

3.  Seni Teater

4.  Seni Tari

 

 

 

108

 

 

 

36

 

 

 

144

Bahasa Inggris

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.116

 

252

 

1.368

Mata Pelajaran Pilihan

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

 

72

 

-

 

72

Muatan Lokald)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal

 

 

1.188

 

 

252

 

 

1.440

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

 

 

1.260

 

 

252

 

 

1.512

 

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

Tabel 5. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas VI

(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu dan 1 JP = 35 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

96

32

128

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

128

32

160

Bahasa Indonesia

192

32

224

Matematika

160

32

192

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

160

32

192

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

96

32

128

Seni dan Budayab)

1.  Seni Musik

2.  Seni Rupa

3.  Seni Teater

4.  Seni Tari

96

32

128

Bahasa Inggris

64

-

64


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

992

224

1.216

Mata Pelajaran Pilihan

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

 

64

 

-

 

64

Muatan Lokald)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal

 

 

1.056

 

 

224

 

 

1.280

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

 

 

1.120

 

 

224

 

 

1.344

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat secara umum.

1.    Muatan  pembelajaran  kepercayaan  untuk  penghayat  kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2.    Layanan  bimbingan  dan  konseling  dilaksanakan  sesuai  dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bimbingan dan konseling.

3.    Muatan Lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan

keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau e.    teknologi.

4.    Muatan Lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian ke dalam Kokurikuler; dan/atau c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

5.    Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, atau bentuk lain yang sederajat menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi Peserta Didik.


 

 

6.    Peserta  Didik  yang  memiliki  potensi  kecerdasan  istimewa  dapat diberikan percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan Capaian Pembelajaran sebagai layanan individual dan bukan dalam bentuk rombongan belajar.

7.    Mata  pelajaran    pilihan  Koding  dan  Kecerdasan  Artifisial  dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minatnya.

 

C. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Tsanawiyah, atau Bentuk Lain yang Sederajat

 

Struktur Kurikulum sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat sebagai berikut.

 

Tabel 6. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas VII-VIII

(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 40 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

36

108

Bahasa Indonesia

180

36

216

Matematika

144

36

180

Ilmu Pengetahuan Alam

144

36

180

Ilmu Pengetahuan Sosial

108

36

144

Bahasa Inggris

108

36

144

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

36

 

108

Informatika

72

36

108

Seni, Budaya, dan

Prakaryab)

 

72

 

36

 

108


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

5. Prakarya Budi Daya

6. Prakarya Kerajinan

7. Prakarya Rekayasa

8. Prakarya Pengolahan

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.044

 

360

 

1.404

Mata Pelajaran Pilihan

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

 

72

 

-

 

72

Muatan Lokald)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal

 

 

1.116

 

 

360

 

 

1.476

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

 

 

1.188

 

 

360

 

 

1.548

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni atau

prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau prakarya pengolahan).

c)    Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 7. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat Kelas IX

(Asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 40 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

64

 

32

 

96


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

64

32

96

Bahasa Indonesia

160

32

192

Matematika

128

32

160

Ilmu Pengetahuan Alam

128

32

160

Ilmu Pengetahuan Sosial

96

32

128

Bahasa Inggris

96

32

128

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

64

 

32

 

96

Informatika

64

32

96

Seni, Budaya, dan

Prakaryab)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

5. Prakarya Budi Daya

6. Prakarya Kerajinan

7. Prakarya Rekayasa

8. Prakarya Pengolahan

 

 

 

 

 

 

 

 

64

 

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

 

 

96

Total   JP   Mata   Pelajaran

Wajib

 

928

 

320

 

1.248

Mata Pelajaran Pilihan

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

 

64

 

-

 

64

Muatan Lokald)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan/Muatan Lokal

 

 

992

 

 

320

 

 

1.312

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi

Alokasi

Total JP

Intrakurikuler

Kokurikuler Per

Per

Per Tahun

Tahun

Tahun

Total JP Mata Pelajaran

 

 

1.056

 

 

320

 

 

1.376

Wajib + Mata Pelajaran

Pilihan + Muatan Lokal

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau prakarya pengolahan).

c)    Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah/bentuk lain yang sederajat secara umum.

1.    Muatan   pelajaran   kepercayaan   untuk   penghayat   kepercayaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2.    Layanan  bimbingan  dan  konseling  dilaksanakan  sesuai  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bimbingan dan konseling.

3.    Muatan Lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau e.    teknologi.

4.    Muatan Lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian ke dalam Kokurikuler; dan/atau

c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

5.    Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, atau bentuk lain yang sederajat menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi Peserta Didik.

6.    Peserta  Didik  yang  memiliki  potensi  kecerdasan  istimewa  dapat

diberikan percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan Capaian Pembelajaran sebagai layanan individual dan bukan dalam bentuk rombongan belajar.

7.    Kelas khusus atau Satuan Pendidikan khusus olahraga atau seni

dapat menggunakan alokasi waktu Kokurikuler sebagai penguatan kompetensi khusus keolahragaan atau kesenian sesuai kebutuhan Peserta Didik.


 

 

8.    Mata  pelajaran  pilihan  Koding  dan  Kecerdasan  Artifisial  dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minatnya.

9.    Kurikulum pada Satuan Pendidikan dapat dirancang dengan konsep diversifikasi. Konten diversifikasi dapat diambil dari kearifan lokal, potensi daerah, atau program nasional yang relevan dengan kebutuhan dan kondisi Satuan Pendidikan.

 

D. Struktur  Kurikulum  Sekolah  Menengah  Atas,  Madrasah  Aliyah,  atau

Bentuk Lain yang Sederajat

 

Struktur Kurikulum sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat sebagai berikut.

 

Tabel 8. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas X

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Matematika

108

36

144

Ilmu Pengetahuan Alam: Fisika, Kimia, Biologi

 

216

 

108

 

324

Ilmu Pengetahuan Sosial: Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi

 

 

288

 

 

144

 

 

432

Bahasa Inggris

108

-

108

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

36

 

108

Informatika

72

-

72

 

 
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Seni, Budaya, dan Prakaryab)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

5. Prakarya Budi Daya

6. Prakarya Kerajinan

7. Prakarya Rekayasa

8. Prakarya Pengolahan

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

72

Total JP Mata Pelajaran Wajib

1.188

396

1.584

Mata Pelajaran Pilihan

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

 

72

 

-

 

72

Muatan Lokal d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran

Pilihan/Muatan Lokal

 

 

1.260

 

 

396

 

 

1.656

Total JP Mata Pelajaran Wajib+ Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

 

 

1.332

 

 

396

 

 

1.728

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, dan/atau prakarya pengolahan). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni atau prakarya (seni musik, seni rupa, seni teater, seni tari, prakarya budi daya, prakarya kerajinan, prakarya rekayasa, atau prakarya pengolahan).

c)    Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas X sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat tidak dipisahkan menjadi mata pelajaran yang lebih spesifik. Namun demikian, Satuan Pendidikan dapat menentukan pengorganisasian muatan pelajaran. Pengorganisasian pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut:

a.    mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan

Sosial secara terintegrasi;

b.    mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan

Sosial secara bergantian dalam blok waktu yang terpisah; atau

c.    mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan

Sosial secara paralel, dengan JP terpisah seperti mata pelajaran yang


 

 

berbeda-beda, diikuti dengan unit pembelajaran inkuiri yang mengintegrasikan muatan-muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut.

 

Fase F untuk kelas XI dan kelas XII, struktur mata pelajaran dibagi menjadi

2 (dua) kelompok utama, yaitu:

a.    Kelompok Mata Pelajaran Wajib

Setiap sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat wajib membuka atau mengajarkan seluruh mata pelajaran dalam kelompok ini dan wajib diikuti oleh semua Peserta Didik sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat.

b.    Kelompok Mata Pelajaran Pilihan

Setiap sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat wajib menyediakan paling sedikit 7 (tujuh) mata pelajaran pilihan.

 

Khusus untuk sekolah yang ditetapkan pemerintah sebagai sekolah keolahragaan atau seni, dapat dibuka mata pelajaran Olahraga atau Seni, sesuai  dengan  sumber  daya  yang  tersedia di sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat.

 

Tabel 9. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas XI

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama

Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Matematika

108

36

144

Bahasa Inggris

108

-

108

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

72

36

108

 

 
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Sejarah

72

-

72

Seni dan Budayab)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

72

 

 

 

-

 

 

 

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

684

144

828

Mata Pelajaran Pilihan

Matematika Tingkat

Lanjutc)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

720-900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

720-900

Fisikac)

Kimiac)

Biologic)

Geografic)

Sejarah Tingkat Lanjutc)

Sosiologic)

Ekonomic)

Bahasa Indonesia Tingkat

Lanjutc)

Bahasa Inggris Tingkat

Lanjutc)

Bahasa Arabc)

Bahasa Jepangc)

Bahasa Jermanc)

Bahasa Koreac)

Bahasa Mandarinc)

Bahasa Prancisc)

Antropologic)

Informatikac)

Koding dan Kecerdasan

Artifisialc)

Prakarya dan

Kewirausahaan (budi

daya, kerajinan, rekayasa, atau pengolahan)d)

 

 

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

 

 

mata pelajaran lainnya yang dikembangkan sesuai dengan sumber daya yang tersediae)

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan

 

 

1.404-1.584

 

 

144

 

 

1.548-1.728

Muatan Lokal f)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Waib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

 

 

1.476-1.656

 

 

144

 

 

1.620-1.800

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)     Alokasi masing-masing mata pelajaran pilihan yaitu 5 (lima) JP per minggu atau 180 (seratus delapan puluh) JP per tahun.

d)    Alokasi mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan yaitu 2 (dua) JP

per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

e)     Peserta didik memilih 4 (empat) sampai 5 (lima) mata pelajaran atau setara dengan 20 (dua puluh) sampai 25 (dua puluh lima) JP per minggu sesuai dengan kebutuhan Peserta Didik dan sumber daya yang tersedia di Satuan Pendidikan.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun.

 

 

Tabel 10. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat kelas XII

(Asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 45 menit)

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

64

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

 

96

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per

Tahun

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

64

-

64

Bahasa Indonesia

96

32

128

Matematika

96

32

128

Bahasa Inggris

96

-

96

Seni dan Budayab)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

64

 

 

 

-

 

 

 

64

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

64

32

96

Sejarah

64

-

64

Jumlah JP Mata Pelajaran

Wajib

608

128

736

Mata Pelajaran Pilihan

Matematika Tingkat

Lanjutc)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

640 - 800

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

640 - 800

Fisikac)

Kimiac)

Biologic)

Geografic)

Sejarah Tingkat Lanjutc)

Sosiologic)

Ekonomic)

Bahasa Indonesia Tingkat

Lanjutc)

Bahasa Inggris Tingkat

Lanjutc)

Bahasa Arabc)

Bahasa Jepangc)

Bahasa Jermanc)

Bahasa Koreac)

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi

Alokasi

Total JP Per

Intrakurikuler

Kokurikuler

Tahun

Per Tahun

Per Tahun

 

Bahasa Mandarinc)

 

 

 

Bahasa Prancisc)

 

 

 

Antropologic)

 

 

 

Informatikac)

 

 

 

Koding dan Kecerdasan

 

 

 

Artifisialc)

 

 

 

Prakarya dan

 

 

 

Kewirausahaan (budi daya, kerajinan, rekayasa, atau pengolahan)d)

 

 

 

mata pelajaran lainnya

 

 

 

yang dikembangkan

 

 

 

sesuai dengan sumber

 

 

 

daya yang tersediae)

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran

1.248-1.408

128

1.376-

Wajib + Mata Pelajaran

1.536

Pilihan

 

Muatan lokal f)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran

1.312-1.472

128

1.440-1.600

Wajib+ Mata Pelajaran

Pilihan + Muatan Lokal

 

Keterangan:

a) Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b) Satuan  Pendidikan  menyediakan  minimal  1  (satu)  jenis  seni  dan budaya (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni dan budaya (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)  Alokasi masing-masing mata pelajaran pilihan yaitu 5 (lima) JP per minggu atau 160 (seratus enam puluh) JP per tahun.

d) Alokasi mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan yaitu 2 (dua) JP

per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP per tahun.

e)  Peserta didik memilih 4 (empat) sampai 5 (lima) mata pelajaran atau

setara dengan 20 (dua puluh) sampai 25 (dua puluh lima) JP per minggu sesuai dengan kebutuhan Peserta Didik dan sumber daya yang tersedia di Satuan Pendidikan.

f)  Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat secara umum.

1.    Satuan Pendidikan wajib membuka kelompok mata pelajaran wajib serta paling sedikit 7 (tujuh) mata pelajaran pilihan.

2.    Setiap Peserta Didik wajib mengikuti

a. seluruh mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran wajib dan


 

 

b. memilih 4 (empat) sampai dengan 5 (lima) mata pelajaran dari kelompok mata pelajaran pilihan yang diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan, disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan Peserta Didik.

3.    Peserta Didik diperbolehkan mengganti mata pelajaran pilihan paling lambat kelas XI semester 2 (dua) berdasarkan Penilaian ulang Satuan Pendidikan terhadap minat, bakat, dan kemampuan Peserta Didik.

4.    Muatan   pelajaran   kepercayaan   untuk   penghayat   kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

5.    Layanan  bimbingan  dan  konseling  dilaksanakan  sesuai  dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai bimbingan dan konseling.

6.    Muatan lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau

e.    teknologi.

7.    Muatan lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian ke dalam tema Kokurikuler; dan/atau c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

8.    Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di

sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi Peserta Didik.

9.    Peserta  Didik  yang  memiliki  potensi  kecerdasan  istimewa  dapat diberikan percepatan pemenuhan beban belajar, dan/atau pendalaman dan pengayaan Capaian Pembelajaran terkait Kurikulum sebagai layanan individual dan bukan dalam bentuk rombongan belajar.

10.  Kelas khusus atau Satuan Pendidikan khusus olahraga atau seni dapat menggunakan alokasi waktu Kokurikuler sebagai penguatan kompetensi khusus keolahragaan atau kesenian sesuai kebutuhan Peserta Didik.

11.  Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan salah satu

mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minat.

 

 

 

E. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan atau Madrasah Aliyah

Kejuruan

 

Struktur Kurikulum sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan sebagai berikut.

 

 

Tabel 11. Struktur Kurikulum kelas X sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan

(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Umum

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

108

-

108

Sejarah

72

-

72

Seni dan Budayab)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Umum

540

36

576

Mata Pelajaran Kejuruan

Matematika

108

36

144

Bahasa Inggris

108

36

144

Informatika

108

36

144

Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosialc)

180

36

216

Dasar-Dasar Program

Keahliand)

432

-

432

Total JP Mata Pelajaran

Kejuruan

936

144

1.080

Total JP Mata Pelajaran Umum+ Mata Pelajaran Kejuruan

1.476

180

1.656

Mata Pelajaran Pilihan

Koding        dan        Kecerdasan

Artifisiale)

 

72

 

-

 

72

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Total JP Mata Pelajaran Pilihan

72

-

72

Muatan Lokal f)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Mata Pelajaran Pilihan/ Muatan Lokal

 

 

1.548

 

 

180

 

 

1.728

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Lokal

1.620

180

1.800

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing- masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Proporsi JP antara aspek Ilmu Pengetahuan Alam dan aspek Ilmu

Pengetahuan Sosial disesuaikan dengan kebutuhan Program Keahlian. d)    Nama mata pelajaran menyesuaikan nama Program Keahlian.

e)     Dialokasikan 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun sebagai mata pelajaran pilihan.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 12. Struktur Kurikulum kelas XI sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Umum

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

90

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

54

18

72

 

 
(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Bahasa Indonesia

90

18

108

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

54

18

72

Sejarah

54

18

72

Total JP Mata Pelajaran Umum

342

90

432

Mata Pelajaran Kejuruan

Matematika

90

18

108

Bahasa Inggris

108

36

144

Konsentrasi Keahlianb)

648

-

648

Kreativitas, Inovasi, dan

Kewirausahaan

 

180

 

-

 

180

Mata Pelajaran Pilihanc)

144

-

144

Total JP Mata Pelajaran

Kejuruan

 

1.170

 

54

 

1.224

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan

 

1.512

 

144

 

1.656

Muatan Lokal d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal

1.584

144

1.728

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Nama mata pelajaran sesuai dengan nama Konsentrasi Keahlian.

c)    Nama mata pelajaran merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh

Peserta Didik.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 13. Struktur Kurikulum kelas XII sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan program 3 (tiga) tahun

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Umum

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia)

 

 

 

32

 

 

 

16

 

 

 

48

Pendidikan Agama Kristen dan

Budi Pekertia)

 

 
(Asumsi 1 tahun = 32 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Katolik dan

Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Buddha dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

32

-

32

Bahasa Indonesia

32

16

48

Jumlah JP Mata Pelajaran

Umum

 

96

 

32

 

128

Mata Pelajaran Kejuruan

Matematika

48

-

48

Bahasa Inggris

64

-

64

Konsentrasi Keahlianb)

352

-

352

Kreativitas, Inovasi, dan

Kewirausahaan

 

80

 

-

 

80

Praktik Kerja Lapanganc)

736

-

736

Mata Pelajaran Pilihand)

64

 

64

Total JP Mata Pelajaran

Kejuruan

 

1.344

 

-

 

1.344

Total JP Mata Pelajaran Umum

+Mata Pelajaran Kejuruan

 

1.440

 

32

 

1.472

Muatan Lokal(e)

32

-

32

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal

 

 

1.472

 

 

32

 

 

1.504

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing- masing.

b)    Nama mata pelajaran sesuai dengan konsentrasi keahlian.

c)     Mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan paling sedikit selama 1 semester atau 16 (enam belas) minggu efektif.

d)    Nama mata pelajaran merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh

Peserta Didik.

e)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 32 (tiga puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 14. Struktur Kurikulum kelas XII sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan program 4 (empat) tahun

(Asumsi 1 tahun = 36 minggu dan 1 JP = 45 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Umum

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

90

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Pendidikan Agama Kristen dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

54

18

72

Bahasa Indonesia

90

18

108

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

54

18

72

Sejarah

54

18

72

Total JP Mata Pelajaran Umum

342

90

432

Mata Pelajaran Kejuruan

Matematika

90

18

108

Bahasa Inggris

108

36

144

Konsentrasi Keahlianb)

648

-

648

Kreativitas, Inovasi,  dan

Kewirausahaan

180

-

180

Mata Pelajaran Pilihanc)

144

-

144

Total JP Mata Pelajaran

Kejuruan

 

1.170

 

54

 

1.224

Total JP Mata Pelajaran Umum

+Mata Pelajaran Kejuruan

 

1.512

 

144

 

1.656

Muatan Lokal d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Umum + Mata Pelajaran Kejuruan + Muatan Lokal

 

 

1.584

 

 

144

 

 

1.728

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing- masing. b)    Nama mata pelajaran sesuai dengan nama konsentrasi keahlian.

c)    Nama mata pelajaran merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh

Peserta Didik.


 

 

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 15. Struktur Kurikulum kelas XIII sekolah menengah kejuruan atau madrasah aliyah kejuruan program 4 (empat) tahun

(Asumsi 1 tahun = 32 minggu, dan 1 JP = 45 menit)

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler Per Tahun

Alokasi Kokurikuler Per Tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Umum

Total JP Mata Pelajaran Umum

-

-

-

Mata Pelajaran Kejuruan

Matematika

64

-

64

Bahasa Inggris

192

-

192

Praktik Kerja Lapangana)

1.216

-

1.216

Total JP Mata Pelajaran

Kejuruan

1.472

-

1.472

Total JP Mata Pelajaran Umum

+Mata Pelajaran Kejuruan

1.472

-

1.472

 

Keterangan:

a)    Mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan paling sedikit selama 10 (sepuluh) bulan atau 26 (dua puluh enam) minggu efektif.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan secara umum.

1.    Mata pelajaran  Matematika,  mata  pelajaran Bahasa Inggris, mata

pelajaran Informatika, dan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan

Artifisial dilaksanakan sesuai dengan konteks program keahlian.

2.    Mata  pelajaran  Projek  Ilmu  Pengetahuan  Alam  dan  Sosial  berisi

muatan tentang literasi ilmu pengetahuan alam dan sosial yang diformulasikan dalam tema-tema kehidupan yang kontekstual dan aktual.

3.    Mata pelajaran Dasar-Dasar Program Keahlian dan mata pelajaran

Konsentrasi Keahlian berisi kompetensi minimum dan dapat ditambah oleh Satuan Pendidikan bersama mitra dunia kerja sesuai kebutuhan dunia kerja.

4.    Mata pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan dilaksanakan melalui pendekatan pembelajaran berbasis projek untuk mengaktualisasikan kompetensi yang dikuasai melalui pengembangan produk/layanan jasa secara kreatif dan inovatif pada kegiatan wirausaha.

5.    Mata pelajaran PKL merupakan wahana pembelajaran di dunia kerja

untuk memberikan kesempatan kepada Peserta Didik meningkatkan penguasaan kompetensi teknis (technical skills) sesuai dengan konsentrasi keahliannya serta menginternalisasi karakter dan budaya kerja (soft skills).

6.    Mata  pelajaran  PKL  dilaksanakan  secara  blok  dengan  asumsi  46 (empat puluh enam) JP per minggu.


 

 

7.    Mata pelajaran pilihan merupakan mata pelajaran yang dipilih Peserta Didik           berdasarkan   minat   untuk   berwirausaha,   bekerja   pada bidangnya, maupun melanjutkan pendidikan.

8.    Mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan salah satu mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minat.

9.    Muatan pelajaran kepercayaan untuk penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

10. Layanan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai Bimbingan dan Konseling.

11.  Muatan lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau

e.    teknologi.

12.  Muatan lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian ke dalam tema Kokurikuler; dan/atau c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

13.  Kurikulum di Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif di

sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan/bentuk lain yang sederajat menambahkan mata pelajaran Program Kebutuhan Khusus sesuai dengan kondisi Peserta Didik.

 

F. Struktur Kurikulum Sekolah Dasar Luar Biasa dan Madrasah Ibtidaiyah

Luar Biasa

 

Struktur Kurikulum sekolah dasar luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa sebagai berikut.

 

 

Tabel 16. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas I

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 30 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Matematika

72

-

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

-

 

72

Seni dan Budaya(b)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

252

 

 

 

108

 

 

 

360

Program Kebutuhan

Khusus(c)

 

 

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan

pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan

komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

216

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

216

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

900

 

180

 

1.080

Muatan Lokal(d)

72

-

72

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi

Alokasi

Total JP Per

Intrakurikuler

Kokurikuler

Tahun

per tahun

per tahun

 

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

972

 

180

 

1.152

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 17. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas II

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 30 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Matematika

108

36

144

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

-

 

72

Seni dan Budaya(b)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

 

 

252

 

 

108

 

 

360


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

Program Kebutuhan

Khusus(c)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

216

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

216

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

936

 

216

 

1.152

Muatan Lokal(d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.008

 

216

 

1.224

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.


 

 

Tabel 18. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas III-IV

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

72

36

108

Matematika

72

36

108

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

 

72

 

-

 

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

-

 

72

Seni dan Budaya(b)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

360

 

 

 

144

 

 

 

504

Program Kebutuhan

Khusus(c)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

 

 

 

 

 

 

 

 

216

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

216

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 30 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

Bahasa Inggris

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.116

 

252

 

1.368

Muatan Lokal(d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.188

 

252

 

1.440

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 19. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas V

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

36

 

 

 

 

 

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 30 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

 

 

 

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

72

-

72

Bahasa Indonesia

108

36

144

Matematika

108

36

144

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

 

72

 

-

 

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

72

 

-

 

72

Seni dan Budaya(b)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

360

 

 

 

144

 

 

 

504

Program Kebutuhan

Khusus(c)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan

pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan

komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Bahasa Inggris

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.116

 

252

 

1.368

Muatan Lokal(d)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.188

 

252

 

1.440

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun.

 

Tabel 20. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah dasar luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas VI

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

96

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

128

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

54

-

64

Bahasa Indonesia

96

32

128

Matematika

96

32

128

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

 

54

 

-

 

64

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP = 30 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per

Tahun

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan

 

54

 

-

 

64

Seni dan Budaya(b)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

320

 

 

 

128

 

 

 

448

Program Kebutuhan

Khusus(c)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan

pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan

komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

128

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

128

Bahasa Inggris

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

992

 

224

 

1.216

Muatan Lokal(d)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.056

 

224

 

1.280

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

c)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.


 

 

d)    Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.

 

G. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa dan Madrasah

Tsanawiyah Luar Biasa

 

Struktur Kurikulum sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa sebagai berikut.

 

 

Tabel 21. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas VII

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

54

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

54

18

72

Bahasa Indonesiab)

54

18

72

Matematikab)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Alamb)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

54

18

72

Bahasa Inggrisb)

54

18

72

Pendidikan              Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

 

54

 

18

 

72

Seni dan Budayab,c)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

54

 

 

 

18

 

 

 

72

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 35 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

468

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

612

Program Kebutuhan Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri

(penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.062

 

306

 

1.368

Muatan Lokalf)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.134

 

306

 

1.440

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  36  (tiga  puluh  enam)  minggu  untuk

memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh  tujuh)  minggu  untuk  Pendidikan  Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)     Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih minimal 2 (dua) keterampilan. e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun.

 

Tabel 22. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas VIII

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 35 menit)

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

 

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia,b)

 

 

 

54

 

 

 

18

 

 

 

72

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

 

 

 

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

54

18

72

Bahasa Indonesiab)

54

18

72

Matematikab)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Alamb)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

54

18

72

Bahasa Inggrisb)

54

18

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

 

54

 

18

 

72

Seni dan Budayab,c)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

54

 

 

 

18

 

 

 

72

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

468

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

144

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

612

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per Tahun

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

 

 

 

Program Kebutuhan Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan

pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan

komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

108

Total JP Mata Pelajaran Wajib

1.062

306

1.368

Muatan Lokalf)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran Wajib

+ Muatan Lokal

 

1.134

 

306

 

1.440

 

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  36  (tiga  puluh  enam)  minggu  untuk

memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh  tujuh)  minggu  untuk  Pendidikan  Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)     Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih 1 (satu) keterampilan.

e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

 

Tabel 23. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah pertama luar biasa dan madrasah ibtidaiyah luar biasa kelas IX

(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP = 35 menit)

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan

Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

48

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

64

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

48

16

64

Bahasa Indonesiab)

48

16

64

Matematikab)

48

16

64

Ilmu Pengetahuan Alamb)

48

16

64

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

48

16

64

Bahasa Inggrisb)

48

16

64

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

48

16

64

Seni dan Budayab,c)

48

16

64

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per Tahun

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

416

128

544

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

Total JP Per Tahun

Program Kebutuhan Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri

(penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan

komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

96

-

96

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

944

272

1.216

Muatan Lokalf)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

1.008

272

1.280

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  32  (tiga  puluh  dua)  minggu  untuk memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 24 (dua puluh empat) minggu untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih 1 (satu) keterampilan. e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.


 

 

H. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas Luar Biasa dan Madrasah

Aliyah Luar Biasa

 

 

Struktur Kurikulum sekolah menengah atas luar biasa dan madrasah aliyah luar biasa sebagai berikut.

 

Tabel 24. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madrasah aliyah luar biasa kelas X

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

54

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

54

18

72

Bahasa Indonesiab)

54

18

72

Matematikab)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Alamb)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

54

18

72

Bahasa Inggrisb)

54

18

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

 

54

 

18

 

72

Seni dan Budayab,c)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

54

 

 

 

18

 

 

 

72

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

 

 

 

648

 

 

 

216

 

 

 

864

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 40 menit)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

 

 

 

Program Kebutuhan

Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri

(penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.206

 

378

 

1.584

Muatan Lokalf)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.278

 

378

 

1.656

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  36  (tiga  puluh  enam)  minggu  untuk memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh  tujuh)  minggu  untuk  Pendidikan  Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)     Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih 1 (satu) keterampilan. e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per tahun.

 

Tabel 25. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madrasah aliyah luar biasa kelas XI

(Asumsi 1 Tahun = 36 minggu, 1 JP = 40 menit)

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

54

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

72

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

54

18

72

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Bahasa Indonesiab)

54

18

72

Matematikab)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Alamb)

54

18

72

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

54

18

72

Bahasa Inggrisb)

54

18

72

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

 

54

 

18

 

72

Seni dan Budayab,c)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

 

 

 

54

 

 

 

18

 

 

 

72

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

720

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

216

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

936

Program Kebutuhan

Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas,

 

 

 

72

 

 

 

-

 

 

 

72

 

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri

(penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

 

1.278

 

378

 

1.656

Muatan Lokalf)

72

-

72

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

 

1.350

 

378

 

1.728

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  36  (tiga  puluh  enam)  minggu  untuk

memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 27 (dua puluh  tujuh)  minggu  untuk  Pendidikan  Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)    Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni

musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih 1 (satu) keterampilan. e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 72 (tujuh puluh dua) JP per

tahun.


 

 

Tabel 26. Alokasi waktu mata pelajaran sekolah menengah atas luar biasa dan madarasah aliyah luar biasa kelas XII

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia,b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

48

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

64

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia,b)

Pendidikan Pancasilab)

48

16

64

Bahasa Indonesiab)

48

16

64

Matematikab)

48

16

64

Ilmu Pengetahuan Alamb)

48

16

64

Ilmu Pengetahuan Sosialb)

48

16

64

Bahasa Inggrisb)

48

16

64

Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatanb)

48

16

64

Seni dan Budayab,c)

1. Seni Musik

2. Seni Rupa

3. Seni Teater

4. Seni Tari

48

16

64

 

 
(Asumsi 1 Tahun = 32 minggu, 1 JP = 40)


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

Kelompok Keterampiland)

1. Tata Busana

2. Tata Boga

3. Tata Kecantikan

4. Tata Gerha

5. Teknologi Informasi

Komunikasi

6. Perbengkelan Sepeda

Motor

7. Cetak Saring/Sablon

8. Seni Membatik

9. Suvenir

10. Budidaya Tanaman

Hortikultura

11. Pijat/Akupresur

12. Teknik Penyiaran Radio

13. Seni Musik

14. Fotografi

15. Desain Grafis

16. Seni Tari

17. Seni Lukis

18. Elektronika Alat Rumah

Tangga

19. Budidaya Perikanan

20. Budidaya Peternakan

21. Koding dan Kecerdasan

Artifisial

640

192

832

Program Kebutuhan

Khususe)

1. Pengembangan orientasi, mobilitas, sosial, dan komunikasi (penyandang disabilitas netra)

2. Pengembangan

komunikasi, persepsi bunyi, dan irama; (penyandang disabilitas rungu)

3. Pengembangan diri (penyandang disabilitas intelektual)

4. Pengembangan diri dan

pengembangan gerak (penyandang disabilitas fisik)

64

-

64

 

 

jdih.kemendikdasmen.go.id


 

 

Mata Pelajaran

Alokasi Intrakurikuler per tahun

Alokasi Kokurikuler per tahun

 

Total JP Per

Tahun

5. Pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku (penyandang disabilitas mental)

 

 

 

Total JP Mata Pelajaran

Wajib

1.136

336

1.472

Muatan Lokalf)

64

-

64

Total JP Mata Pelajaran

Wajib + Muatan Lokal

1.200

336

1.536

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Pembelajaran  tidak  penuh  32  (tiga  puluh  dua)  minggu  untuk memenuhi alokasi Kokurikuler, Intrakurikuler dialokasikan 24 (dua puluh empat) minggu untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), dan Seni dan Budaya.

c)     Satuan Pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, dan/atau seni tari). Peserta Didik memilih 1 (satu) jenis seni (seni musik, seni rupa, seni teater, atau seni tari).

d)    Peserta Didik memilih 1 (satu) keterampilan. e)    Dipilih sesuai jenis hambatan Peserta Didik.

f)     Paling banyak 2 (dua) JP per minggu atau 64 (enam puluh empat) JP

per tahun.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum sekolah luar biasa secara umum.

1.    Mata pelajaran Bahasa Inggris untuk sekolah menengah pertama luar biasa dan sekolah menengah atas luar biasa wajib diberikan untuk Peserta Didik berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual, sementara untuk Peserta Didik dengan hambatan intelektual bersifat pilihan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik Peserta Didik dengan mengacu pada hasil asesmen.

2.    Kelompok keterampilan (untuk sekolah menengah pertama luar biasa dan sekolah menengah atas luar biasa) dan mata pelajaran Seni dan Budaya untuk sekolah dasar luar biasa didasarkan pada penekanan kemandirian dan pengembangan keterampilan adaptif anak.

3.    Mata pelajaran Seni dan Budaya di sekolah menengah pertama luar

biasa dan sekolah menengah atas luar biasa pada kelompok mata pelajaran umum berfungsi sebagai sarana apresiasi dan terapi, sedangkan mata pelajaran Seni pada kelompok keterampilan berfungsi sebagai pembekalan untuk profesi.


 

 

4.    Satuan Pendidikan dapat mengembangkan jenis keterampilan secara mandiri sesuai dengan kebutuhan, karakteristik daerah, dan ketersediaan sumber daya manusia.

5.    Satuan  Pendidikan  dapat  mengembangkan  Capaian  Pembelajaran keterampilan sesuai konteks daerah dan dapat menyelaraskannya dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) atau Standar Kompetensi Kerja Khusus Penyandang Disabilitas (SK3PD) yang relevan.

6.    Program Kebutuhan Khusus menjadi muatan wajib di taman kanak- kanak luar biasa. Sedangkan di sekolah dasar luar biasa, sekolah menengah pertama luar biasa, dan sekolah menengah atas luar biasa Program Kebutuhan Khusus menjadi mata pelajaran wajib dengan pertimbangan mempersiapkan Peserta Didik agar mampu hidup mandiri di lingkungan masyarakat.

7.    Program  Kebutuhan  Khusus  bertujuan  untuk  membantu  anak memaksimalkan indera yang dimilikinya dan mengatasi keterbatasannya.

8.    Penentuan Fase pada Peserta Didik didasarkan pada hasil asesmen diagnostik, sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Peserta Didik.

9.    Asesmen  fungsional  dilakukan  oleh  Pendidik  untuk  memperoleh informasi secara menyeluruh berkaitan dengan kondisi, hambatan, dan kebutuhan Peserta Didik berkebutuhan khusus untuk dijadikan dasar dalam merancang perangkat pembelajaran.

10.  Peserta Didik berkebutuhan khusus yang tidak memiliki hambatan intelektual di sekolah luar biasa atau Satuan Pendidikan umum dapat menggunakan struktur Kurikulum dan Capaian Pembelajaran pendidikan umum sesuai jenjangnya dengan menerapkan prinsip- prinsip akomodasi Kurikulum.

11.  Peserta Didik berkebutuhan khusus dari sekolah luar biasa dapat melanjutkan pendidikannya ke Satuan Pendidikan umum dengan mengikuti kelas transisi.

12.  Alokasi waktu belajar bersifat fleksibel sehingga Satuan Pendidikan

dapat menyesuaikan beban belajar dengan karakteristik, kebutuhan belajar dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain.

13.  Muatan pelajaran kepercayaan untuk penganut kepercayaan kepada

Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

14.  Muatan lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau e.    teknologi.

15.  Muatan lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian ke dalam tema Kokurikuler; dan/atau

c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

16. Peserta Didik sekolah menengah atas luar biasa kelas XI wajib melaksanakan PKL untuk mata pelajaran keterampilan paling sedikit

1 (satu) bulan atau sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Peserta

Didik di lingkungan masyarakat atau dunia kerja.


 

 

I.  Struktur   Kurikulum   Satuan   Pendidikan   Penyelenggara   Pendidikan

Kesetaraan

 

Struktur Kurikulum Satuan Pendidikan penyelenggara pendidikan kesetaraan disusun dalam Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C yang terdiri atas mata pelajaran dan/atau muatan wajib serta kelompok muatan pemberdayaan dan keterampilan. Kelompok mata pelajaran wajib memuat mata pelajaran yang disusun mengacu pada standar nasional pendidikan sesuai dengan pendidikan formal dan merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan untuk semua Peserta Didik.

Kelompok muatan pemberdayaan dan keterampilan mencakup keterampilan okupasional, fungsional, vokasional, sikap dan kepribadian profesional, dan jiwa wirausaha mandiri yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pendidikan kesetaraan serta berbasis profil lulusan. Pemberdayaan dan keterampilan dimaksud dijelaskan sebagai berikut.

a.    Pemberdayaan     memuat     kompetensi     untuk     menumbuhkan keberdayaan, harga diri, percaya diri sehingga Peserta Didik mampu mandiri dan berkreasi dalam kehidupan bermasyarakat. Materi-materi untuk mencapai kompetensi dapat meliputi pengembangan diri dan pengembangan kapasitas untuk mendukung keterampilan yang dipilih Peserta Didik.

b.    Keterampilan   diberikan   dengan   memperhatikan   variasi   potensi sumber daya daerah yang ada, kebutuhan Peserta Didik, dan peluang kesempatan kerja yang tersedia sehingga Peserta Didik mampu melakukan aktualisasi kemandirian, otonomi, kebebasan, dan kreativitas dalam berkarya untuk mengisi ruang publik secara produktif.

Muatan belajar program pendidikan kesetaraan dinyatakan dalam Satuan Kredit Kompetensi (SKK) yang menunjukkan bobot kompetensi yang harus dicapai oleh Peserta Didik dalam mengikuti program pembelajaran, baik melalui tatap muka, kegiatan belajar mandiri, dan/atau tutorial. 1 (satu) SKK adalah 1 (satu) satuan kompetensi yang dicapai melalui pembelajaran

1 (satu) jam pembelajaran tatap muka atau 2 (dua) jam pembelajaran tutorial atau 3 (tiga) jam pembelajaran mandiri, atau kombinasi secara proporsional dari ketiganya. 1 (satu) jam tatap muka yang dimaksud adalah

1 (satu) jam pembelajaran, yaitu sama dengan 35 (tiga puluh lima) menit untuk Program Paket A, 40 (empat puluh) menit untuk Program Paket B, dan 45 (empat puluh lima) menit untuk Program Paket C.

 

Tabel 27. Struktur Kurikulum Program Paket A

 

 

 


Mata

Bobot Satuan Kredit Kompetensi

 

Pelajaran/Muatan

Fase A

Fase B

Fase C

TOTAL

Pemberdayaan dan

 

 

 

SKK

Keterampilan

 

 

VI)

 

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekertia)

48

 

 

 

 

62

 

62

 

 

 

 

172

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekertia)

 

 
(Kelas I – II)(Kelas III– IV)


(Kelas V –


 

 

 

 

 


Mata

Bobot Satuan Kredit Kompetensi

 

Pelajaran/Muatan

Fase A

Fase B

Fase C

TOTAL

Pemberdayaan dan

 

 

 

SKK

Keterampilan

 

 

VI)

 

Pendidikan Agama

 

 

 

 

Katolik dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

Pendidikan Agama

 

 

 

 

Buddha dan Budi

Pekertia)

 

 

 

 

Pendidikan Agama Hindu

 

 

 

 

dan Budi Pekertia)

 

 

 

 

Pendidikan Agama

 

 

 

 

Khonghucu dan Budi

Pekertia)

 

 

 

 

Pendidikan Pancasila

 

 

 

 

Bahasa Indonesia

 

 

 

 

Matematika

 

 

 

 

PJOK

 

 

 

 

Seni dan Budaya

 

 

 

 

Ilmu Pengetahuan Alam

-

 

 

 

dan Sosial

 

 

 

Bahasa Inggris

-

 

 

 

Muatan Pemberdayaan dan Keterampilanb)

Pemberdayaan

14

14

14

42

Keterampilan

Total SKK Mata Pelajaran

62

76

76

214

Wajib + Muatan

Pemberdayaan dan

Keterampilan

Muatan Lokalc)

2

2

2

6

Total SKK  Kelompok Mata

64

78

78

220

Pelajaran Wajib + Muatan

Pemberdayaan dan

Keterampilan + Muatan

Lokal

 

 
(Kelas I – II)(Kelas III– IV)


(Kelas V –


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Muatan pemberdayaan dan/atau muatan keterampilan dilaksanakan pada Satuan Pendidikan sebagai Kokurikuler.

c)    Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit Kompetensi (SKK) tiap Fase.


 

 

Tabel 28. Struktur Kurikulum Program Paket B

 

Mata Pelajaran/Muatan

Pemberdayaan dan Keterampilan

Bobot Satuan Kredit

Kompetensi

 

 

Total SKK

Fase D

(Kelas VII – IX)

Mata Pelajaran dan/atau Muatan Wajib

Pendidikan Agama Islam dan Budi

Pekertia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

84

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

84

Pendidikan Agama Kristen dan Budi

Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan Budi

Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi

Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan Budi

Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

Bahasa Indonesia

Matematika

Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Sosial

Bahasa Inggris

PJOK

Seni dan Budaya

Muatan Pemberdayaan dan Keterampilanb)

Pemberdayaan

 

29

 

29

Keterampilan

Total SKK Mata Pelajaran dan/atau Muatan Wajib + Muatan Pemberdayaan dan Keterampilan

 

 

113

 

 

113

Muatan Lokalc)

2

2

Total SKK Mata Pelajaran dan/atau Muatan Wajib + Muatan Pemberdayaan dan Keterampilan + Muatan Lokal

 

 

 

115

 

 

 

115

 

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing.

b)    Muatan pemberdayaan dan/atau muatan keterampilan dilaksanakan

pada Satuan Pendidikan sebagai Kokurikuler.

c)    Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit Kompetensi (SKK) tiap Fase.


 

 

Tabel 29. Struktur Kurikulum Program Paket C

 

Mata Pelajaran/Muatan

Satuan Bobot Kompetensi

TOTAL

Pemberdayaan dan

Fase E

Fase F

SKK

Keterampilan

Kelas X

Kelas XI – XII

 

Mata Pelajaran Wajib

Pendidikan Agama Islam dan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

64

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Kristen dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Katolik dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Buddha dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Hindu dan

Budi Pekertia)

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekertia)

Pendidikan Pancasila

Bahasa Indonesia

Matematika

Bahasa Inggris

Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika, Biologi, Kimia)b)

Ilmu Pengetahuan Sosial (Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi)b)

Sejarahc)

PJOK

Seni dan Budaya

Mata Pelajaran Pilihan

Antropologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

40

 

 

 

 

 

 

 

 

 

40

Bahasa Arab

Bahasa Indonesia Tingkat

Lanjut

Bahasa Inggris Tingkat Lanjut

Bahasa Jepang

Bahasa Jerman

Bahasa Korea

Bahasa Mandarin

Bahasa Prancis


 

 

Mata Pelajaran/Muatan

Satuan Bobot Kompetensi

TOTAL

Pemberdayaan dan

Fase E

Fase F

SKK

Keterampilan

Kelas X

Kelas XI – XII

 

Biologi

 

 

 

Ekonomi

 

 

 

Fisika

 

 

 

Geografi

 

 

 

Informatika

 

 

 

Kimia

 

 

 

Matematika Tingkat Lanjut

 

 

 

Sejarah Tingkat Lanjut

 

 

 

Sosiologi

 

 

 

Total SKK Mata Pelajaran Wajib

+ Mata Pelajaran Pilihan

 

32

 

72

 

104

Muatan Pemberdayaan dan Keterampiland)

Pemberdayaan

 

12

 

12

 

24

Keterampilan

Total SKK Kelompok Mata Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran Pilihan + Muatan Pemberdayaan dan Keterampilan

 

 

 

44

 

 

 

84

 

 

 

128

Muatan Lokale)

2

2

4

Total SKK Kelompok Mata

 

 

 

46

 

 

 

86

 

 

 

132

Pelajaran Wajib + Mata Pelajaran

Pilihan + Muatan Pemberdayaan

dan Keterampilan + Muatan

Lokal

Keterangan:

a)    Diikuti oleh Peserta Didik sesuai dengan agama masing-masing. b)    Diberikan pada kelas X (Fase E).

c)    Diberikan pada kelas XI dan XII (Fase F).

d)    Muatan pemberdayaan dan/atau muatan keterampilan dilaksanakan

pada Satuan Pendidikan sebagai Kokurikuler.

e)    Paling banyak 2 (dua) Satuan Kredit Kompetensi (SKK) tiap Fase.

 

Berikut merupakan penjelasan dari struktur Kurikulum pendidikan kesetaraan (Program Paket A, Program Paket B, dan Program Paket C) secara umum.

1.    Intrakurikuler    dilaksanakan    dengan    mengacu   pada   Capaian Pembelajaran mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan sesuai dengan jenjang pada jalur pendidikan formal.

2.    Mata pelajaran wajib merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan untuk semua Peserta Didik.

3.    Mata pelajaran pilihan merupakan mata pelajaran yang dipilih oleh

Peserta Didik sesuai dengan minat dan bakatnya.


 

 

4.    Ketentuan  mengenai  mata  pelajaran  pilihan  disesuaikan  dengan sekolah menengah atas, madrasah aliyah, atau bentuk lain yang sederajat.

5.    Muatan pelajaran kepercayaan untuk penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai layanan pendidikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

6.    Muatan lokal merupakan muatan pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal berupa:

a.    seni budaya;

b.    prakarya;

c.    pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan;

d.    bahasa; dan/atau

e.    teknologi.

7.    Muatan lokal dapat dilaksanakan pada Satuan Pendidikan melalui:

a.    pengintegrasian ke dalam mata pelajaran lain;

b.    pengintegrasian    ke    dalam    muatan    pemberdayaan    dan keterampilan berbasis profil lulusan; dan/atau

c.    mata pelajaran yang berdiri sendiri.

 

MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA,

 

ttd.


 

 

Salinan sesuai dengan aslinya. Kepala Biro Hukum

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

 

ttd.

 

Muhammad Ravii

NIP 197203232005011001


ABDUL MU’TI


SALINAN LAMPIRAN III

PERATURAN MENTERI DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2025

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 12 TAHUN 2024 TENTANG KURIKULUM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH

PENGEMBANGAN EKSTRAKURIKULER A.    Komponen

1.    Visi dan Misi

Visi Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan adalah berkembangnya potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal melalui kegiatan-kegiatan di luar Intrakurikuler.

Misi Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan sebagai berikut:

a.    menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih dan diikuti sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat Peserta Didik; dan

b.    menyelenggarakan    sejumlah    kegiatan    yang    memberikan

kesempatan kepada Peserta Didik untuk dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri secara optimal melalui kegiatan mandiri dan/atau berkelompok.

2.    Fungsi dan Tujuan

Fungsi Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan sebagai berikut.

a.    Fungsi pengembangan, yakni bahwa Ekstrakurikuler berfungsi

untuk mendukung perkembangan Peserta Didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi dan bakat, serta pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.

b.    Fungsi  sosial,  yakni  bahwa  Ekstrakurikuler  berfungsi  untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial Peserta Didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada Peserta Didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktik keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral serta nilai sosial.

c.    Fungsi rekreatif, yakni bahwa Ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan Peserta Didik. Ekstrakurikuler harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih menarik bagi Peserta Didik.

d.    Fungsi persiapan karier, yakni bahwa Ekstrakurikuler berfungsi

untuk mengembangkan kesiapan karir Peserta Didik melalui pengembangan kapasitas.

Tujuan pelaksanaan Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan sebagai

berikut.

a.    Ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor Peserta Didik.


 

 

b.    Ekstrakurikuler harus dapat mengembangkan bakat, minat, dan potensi serta karakter Peserta Didik dalam upaya pembinaan pribadi menuju manusia seutuhnya.

B.    Jenis dan Format Kegiatan

Jenis Ekstrakurikuler sebagai berikut:

1.    krida,  misalnya:  Kepramukaan  atau  Kepanduan  lainnya,  Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya;

2.    karya  ilmiah,  misalnya:  Kegiatan  Ilmiah  Remaja  (KIR),  kegiatan

penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya;

3.    latihan olah-bakat atau latihan olah-minat, misalnya: pengembangan

bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya;

4.    keagamaan, misalnya: pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis

Al-Quran, retret, Sekolah Injil Liburan, Pendalaman Alkitab; atau

5.    bentuk kegiatan lainnya.

Ekstrakurikuler  dapat  diselenggarakan  dalam  berbagai  format  sebagai berikut.

1.    Individual, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh Peserta Didik secara perorangan.

2.    Kelompok, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang

diikuti oleh kelompok-kelompok Peserta Didik.

3.    Klasikal, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh Peserta Didik dalam 1 (satu) rombongan belajar.

4.    Gabungan, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang diikuti oleh Peserta Didik antar rombongan belajar.

5.    Lapangan, yakni Ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam format yang

diikuti oleh seorang atau sejumlah Peserta Didik melalui kegiatan di luar sekolah atau kegiatan lapangan.

 

C.    Prinsip Pengembangan

Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan dikembangkan dengan prinsip sebagai berikut.

1.    Bersifat  individual,  yakni  bahwa  Ekstrakurikuler  dikembangkan

sesuai dengan potensi, bakat, dan minat Peserta Didik masing-masing.

2.    Bersifat pilihan, yakni bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh Peserta Didik secara sukarela.

3.    Keterlibatan    aktif,    yakni    bahwa    Ekstrakurikuler    menuntut keikutsertaan Peserta Didik secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing.

4.    Menyenangkan,  yakni  bahwa  Ekstrakurikuler  dilaksanakan  dalam suasana yang menggembirakan bagi Peserta Didik.

5.    Membangun etos kerja, yakni bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan prinsip membangun semangat Peserta Didik untuk berusaha dan bekerja dengan baik dan giat.

6.    Kemanfaatan sosial, yakni bahwa Ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan memperhatikan dampak positifnya bagi masyarakat.

 

D.   Mekanisme

1.    Pengembangan

Ekstrakurikuler diselenggarakan oleh Satuan Pendidikan bagi Peserta Didik sesuai potensi, bakat, dan minat Peserta Didik. Pengembangan Ekstrakurikuler  di  Satuan  Pendidikan  dapat  dilakukan  melalui


 

 

tahapan: (1) analisis sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan Ekstrakurikuler; (2) identifikasi kebutuhan, potensi, bakat, dan minat Peserta Didik; (3) menetapkan bentuk kegiatan yang diselenggarakan, kompetensi, muatan pembelajaran, beban belajar, dan indikator ketercapaiannya; (4) mengupayakan sumber daya sesuai pilihan Peserta Didik atau menyalurkannya ke Satuan Pendidikan atau lembaga lainnya; dan (5) menyusun Program Ekstrakurikuler.

 

Satuan   Pendidikan   menyusun   program   Ekstrakurikuler   yang merupakan    bagian    dari    Rencana    Kerja    Sekolah.    Program Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan yang dikembangkan dengan menggunakan sumber daya bersama difasilitasi penggunaannya oleh Yayasan,      Pemerintah,      atau      Pemerintah     Daerah     sesuai kewenangannya.   Program Ekstrakurikuler disosialisasikan kepada Peserta Didik dan orangtua/wali pada setiap awal tahun pelajaran. Sistematika Program Ekstrakurikuler paling sedikit memuat:

a.    rasional dan tujuan umum;

b.    deskripsi setiap Ekstrakurikuler;

c.    pengelolaan;

d.    pendanaan; dan

e.    evaluasi.

 

2.    Pelaksanaan

Penjadwalan Ekstrakurikuler dirancang di awal tahun ajaran oleh

pembina Ekstrakurikuler di bawah supervisi kepala sekolah/ madrasah atau wakil kepala sekolah/madrasah. Jadwal Ekstrakurikuler diatur agar tidak menghambat pelaksanaan Intrakurikuler dan Kokurikuler.

 

3.    Penilaian atau Asesmen

Kinerja Peserta Didik dalam Ekstrakurikuler perlu mendapat Penilaian

atau asesmen dan dideskripsikan dalam laporan hasil belajar. Kriteria keberhasilannya meliputi proses dan hasil capaian kompetensi Peserta Didik dalam Ekstrakurikuler yang dipilihnya. Penilaian atau asesmen dilakukan secara kualitatif.

 

E.    Evaluasi

Evaluasi Ekstrakurikuler dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan

pada setiap indikator yang telah ditetapkan dalam rencana pengembangan Ekstrakurikuler oleh Satuan Pendidikan. Satuan Pendidikan hendaknya mengevaluasi setiap indikator yang sudah tercapai maupun yang belum tercapai. Berdasarkan hasil evaluasi, Satuan Pendidikan dapat melakukan tindak lanjut berupa perbaikan pada perencanaan siklus kegiatan berikutnya.

 

F.    Daya Dukung

Daya dukung pengembangan dan pelaksanaan Ekstrakurikuler meliputi:

1.    Kebijakan Satuan Pendidikan

Pengembangan dan pelaksanaan Ekstrakurikuler merupakan kewenangan dan tanggung jawab penuh dari Satuan Pendidikan. Satuan Pendidikan menetapkan kebijakan pengembangan dan pelaksanaan Ekstrakurikuler melalui rapat Satuan Pendidikan dengan melibatkan komite sekolah/madrasah.


 

 

2.    Ketersediaan Pembina Ekstrakurikuler

Pelaksanaan Ekstrakurikuler harus didukung dengan ketersediaan pembina Ekstrakurikuler. Satuan Pendidikan dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pembina Ekstrakurikuler.

 

3.    Ketersediaan Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan

Pelaksanaan    Ekstrakurikuler    memerlukan    dukungan    berupa

ketersediaan sarana dan prasarana di Satuan Pendidikan. Sarana di Satuan Pendidikan mencakup segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural yang diperlukan untuk mewujudkan proses pendidikan. Prasarana di Satuan Pendidikan mencakup lahan, gedung/bangunan, prasarana olahraga, prasarana kesenian, dan prasarana lainnya.

 

G.   Pihak Yang Terlibat

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan Ekstrakurikuler antara lain:

1.    Satuan Pendidikan

Kepala sekolah/madrasah, pendidik, tenaga kependidikan, dan pembina Ekstrakurikuler bersama-sama mewujudkan keunggulan dalam ragam Ekstrakurikuler sesuai dengan sumber daya yang dimiliki oleh Satuan Pendidikan.

 

2.    Komite Sekolah/Madrasah

Sebagai   mitra   sekolah,   komite   sekolah/madrasah   memberikan

dukungan, saran, dan kontrol dalam mewujudkan keunggulan ragam

Ekstrakurikuler.

 

3.    Orang tua

Memberikan kepedulian, komitmen, dan berperan secara aktif terhadap keberhasilan Ekstrakurikuler pada Satuan Pendidikan.

 

 

 

MENTERI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

REPUBLIK INDONESIA,

ttd. ABDUL MU’TI

 

Salinan sesuai dengan aslinya. Kepala Biro Hukum

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

 

ttd.

 Muhammad Ravii

NIP 197203232005011001





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIMPLICITY ON A FIELD OF GOLD